WELCOME TO http://abeacheagle.blogspot.com

WELCOME TO http://abeacheagle.blogspot.com
My name is A Beach Eagle, you can call me Irwansyah (Indonesia man), This is my creation in a scientific written, if you have hobby to read, please look at this!!!

My Profile

Foto Saya
Sungailiat - Pangkalpinang, Bangka Belitung Island Province, Indonesia
My wise man words : The life is adventure, if you want to get happy in the world with knowledge and also get happy in the hereafter with knowledge, so be adventurer look for knowledge in order that your life happiness in the world and hereafter (eternity) can be gotten. The life is a struggle, so we must always strive to reach it in order that to be reality.

Translate into your languages

Senin, 28 Mei 2012

CONTOH HASIL PENELITIAN METODE KUANTITATIF (S1 MANAJEMEN PERHOTELAN) PART II

CHAPTER IV (CONTINUE PARTIALLY) AND CHAPTER V

RESULT OF EXCELLENCE SERVICE DIMENSIONS RESEARCH
AT ONE OF HOTEL DEPARTMENTS (YEAR 2012)


BY : A BEACH EAGLE (IRWANSYAH)

Blog Support :  KLIK DI SINI
Sponsored by   KLIK DI SINI

PENGARUH PENERAPAN DIMENSI PELAYANAN PRIMA PRAMUGRAHA TERHADAP KEPUASAN TAMU MENGINAP DI HOTEL BUMI ASIH PANGKALPINANG

BAB IV (LANJUTAN)
HASIL PENELITIAN

4.3.3.      Uji Hipotesis Secara Parsial dengan Uji T
Uji hipotesis secara parsial dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan antara masing-masing dimensi pelayanan prima pramugraha yang terdiri dari ability (X1), attitude (X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), accountability (X6) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS maka dapat diperoleh output uji t seperti terlihat pada tabel 4.38. berikut ini.
Tabel 4.38.
Coefficientsa (Uji T)

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig
Collinearity Statistics
Beta
Std. Error
Beta
Toleransi
VIF
1     (Constant)
Ability (X1)
Attitude (X2)
Appearance (X3)
Attention (X4)
Action (X5)
Accountability (X6)
.402
.167
.107
.166
.123
.348
.187
.598
.105
.109
.107
.116
.109
.107
.247
.222
.249
.232
.440
.263
2.672
2.439
1.983
2.489
1.992
4.108
2.984
.014
.019
.032
.015
.031
.000
.012
.097
.164
.174
.237
.153
.199
10.340
6.090
5.731
4.226
6.546
4.027
a.   Dependent Variable : Kepuasan Tamu
Sumber : Hasil olah data SPSS, (2012).
1.   Pengaruh Ability (X1) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh ability (X1) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b1 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh  signifikan ability (X1) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b1 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan ability (X1) terhadap kepuasan tamu.
b.   Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.  Derajat kebebasan (df) = n-k = 70-7 = 63, n adalah jumlah sampel, k adalah konstruk (jumlah variabel X dan Y). Jadi tabel T yang dilihat adalah kolom α (0,05) dan nomor baris df = 63, sehingga didapatkan t tabel untuk setiap variabel X sebesar 1,669 (uji satu arah), Junaidi (2010).
d.   Nilai t hitung ability (X1) sebesar 2,439
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t ability (X1) sebesar 0,019
g.   Simpulan :
t hitung > t tabel (2,439 > 1,669), dan sig t (0,019) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan ability (X1) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
2.   Pengaruh Attitude (X2) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh attitude (X2) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b2 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan attitude (X2) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b2 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan attitude (X2) terhadap kepuasan tamu.
b.  Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.    t tabel sebesar 1,669 (uji satu arah).
d.   Nilai t hitung attitude (X2) sebesar 1,983
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t attitude (X2) sebesar 0,032
g.   Simpulan :
t hitung > t tabel (1,983 > 1,669), dan sig t (0,032) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan attitude (X2) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
3.   Pengaruh Appearance (X3) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh appearance (X3) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b3 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan appearance (X3) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b3 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan appearance (X3) terhadap kepuasan tamu.
b.   Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.    t tabel sebesar 1,669 (uji satu arah).
d.   Nilai t hitung appearance (X3) sebesar 2,489
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t appearance (X3) sebesar 0,015
g.   Simpulan :
t hitung > t tabel (2,489 > 1,669), dan sig t (0,015) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan appearance (X3) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
4.   Pengaruh Attention (X4) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh attention (X4) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b4 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan attention (X4) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b4 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan attention (X4) terhadap kepuasan tamu.
b.   Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.    t tabel sebesar 1,669 (uji satu arah).
d.   Nilai t hitung attention (X4) sebesar 1,992
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t attention (X4) sebesar 0,031
g.   Simpulan :
t hitung > t tabel (1,992 > 1,669), dan sig t (0,031) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan attention (X4) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
5.   Pengaruh Action (X5) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh action (X5) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b5 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan action (X5) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b5 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan action (X5) terhadap kepuasan tamu.
b.   Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.    t tabel sebesar 1,669 (uji satu arah).
d.   Nilai t hitung action (X5) sebesar 4,108
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t action (X5) sebesar 0,000
g.   Simpulan :
t hitung > t tabel (4,108 > 1,669), dan sig t (0,000) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan action (X5) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
6.   Pengaruh Accountability (X6) Terhadap Kepuasan Tamu (Y)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh accountability (X6) terhadap kepuasan tamu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Merumuskan hipotesis
Ho : b6 = 0 atau sig t > α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan accountability (X6) terhadap kepuasan tamu.
Ha : b6 ≠ 0 atau sig t < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan accountability (X6) terhadap kepuasan tamu.
b.   Taraf signifikan α = 5 % (0,05).
c.    t tabel sebesar 1,669 (uji satu arah).
d.   Nilai t hitung accountability (X6) sebesar 2,984
e.    Membandingkan nilai t tabel dengan t hitung
f.    Sig t accountability (X6) sebesar 0,012
g.  Simpulan :
t hitung > t tabel (2,984 > 1,669), dan sig t (0,012) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan accountability (X6) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
4.3.4.     Koefisien Determinasi (Adjusted R Square/R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur berapa besar persentase pengaruh variabel X (dimensi pelayanan prima pramugraha) yang terdiri dari ability (X1), attitude (X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), accountability (X6) terhadap variabel Y (kepuasan tamu).
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS dapat diketahui nilai koefisien determinasi (adjusted R square/R2) pada tabel "Model Summary" seperti terlihat pada tabel 4.39. berikut ini.
Tabel 4.39.
Model Summaryb (Uji R2)
Model
R
R Square
Adjusted        R Square
Std. Error of the Estimate
1
.943a
.890
.879
.895
a.  Predictors : (Constant), Accountability, Attitude, Action, Appearance, Attention, Ability.
b.  Dependent Variable : Kepuasan Tamu
Sumber : Hasil olah data SPSS, (2012).
Dengan memperhatikan tabel 4.39. di atas dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi (adjusted R square/R2) sebesar 0,879 atau 87,9%. Hal ini berarti variabel X (dimensi pelayanan prima pramugraha) yang terdiri dari ability (X1), attitude (X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), accountability (X6) secara bersama-sama mempunyai pengaruh sebesar 0,879 atau 87,9% terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Sedangkan sisanya 1 - 0,879 = 0,121 atau 12,1 % dipengaruhi oleh faktor lain seperti lokasi hotel yang strategis, tersedianya transportasi yang baik, suasana hotel yang nyaman, dan lain-lain.
4.3.5.     Koefisien Beta Standar (Standardized Coefficients β)
Koefisien beta standar (standardized coefficients β) digunakan untuk mengetahui variabel X (dimensi pelayanan prima pramugraha) yang terdiri dari ability (X1), attitude (X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), accountability (X6) yang paling berpengaruh signifikan di antaranya terhadap variabel Y (kepuasan tamu).
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS dapat diketahui nilai koefisien beta standar (standardized coefficients β) seperti terlihat pada tabel 4.40. berikut ini.
Tabel 4.40.
Coefficientsa (Uji Koefisien Beta)
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig
Collinearity Statistics
Beta
Std. Error
Beta
Toleransi
VIF
1     (Constant)
Ability (X1)
Attitude (X2)
Appearance (X3)
Attention (X4)
Action (X5)
Accountability (X6)
.402
.167
.107
.166
.123
.348
.187
.598
.105
.109
.107
.116
.109
.107
.247
.222
.249
.232
.440
.263
2.672
2.439
1.983
2.489
1.992
4.108
2.984
.014
.019
.032
.015
.031
.000
.012
.097
.164
.174
.237
.153
.199
10.340
6.090
5.731
4.226
6.546
4.027
a.   Dependent Variable : Kepuasan Tamu
Sumber : Hasil olah data SPSS, (2012).
Dengan memperhatikan tabel 4.40. di atas dapat diketahui nilai koefisien beta standar (standardized coefficients β) pada kolom 4 dan sig pada kolom 6. Dengan demikian dari ke enam dimensi pelayanan prima pramugraha yang ada maka action (X5) mempunyai nilai β paling besar yakni 0,440 atau 44% dan nilai sig terendah (0,000). Sehingga dapat disimpulkan bahwa  action (X5) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha yang paling berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.

4.4.     Pembahasan
            Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan variabel X (dimensi pelayanan prima pramugraha) yang terdiri dari ability (X1), attitude (X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), accountability (X6) secara simultan maupun parsial terhadap variabel Y (kepuasan tamu), dan tindakan (action) merupakan dimensi pelayanan prima pramugraha yang paling berpengaruh signifikan terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Hal ini menandakan bahwa hipotesis (jawaban atau dugaan) yang diajukan peneliti terbukti kebenarannya (dapat diterima).
4.4.1. Pengaruh penerapan dimensi pelayanan prima pramugraha terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh penerapan dimensi pelayanan prima pramugraha terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dapat peneliti jelaskan sebagai berikut:
1.   Pengaruh ability (X1) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.  Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap ability (X1) pada tabel 4.9. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 25 orang menyatakan sangat setuju atau 36,19%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 34 orang atau 48,10%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap kemampuan pramugraha adalah relatif baik. Sedangkan rata-rata 7 orang responden atau 10% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih menganggap kemampuan pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang kurang baik.
b.  Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi ability (X1) sebesar 0,167. Hal ini menyatakan bahwa apabila nilai variabel X1 (ability) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,167 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (2,439 > 1,669), dan sig t (0,019) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan ability (X1) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan pramugraha dalam menyiapkan kamar tamu, memberikan layanan housekeeping yang prima, dan berkomunikasi dengan baik dan efektif mutlak harus dimiliki. Karena kemampuan tersebut merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel. Artinya semakin ditingkatkannya kemampuan pramugraha maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila kemampuan pramugraha menurun maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata memiliki kemampuan relatif baik, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menandakan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan kemampuan yang telah dimiliki oleh pramugraha. Untuk itu berarti kemampuan pramugraha harus selalu ditingkatkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persaingan bisnis jasa perhotelan yang semakin meningkat.
2.   Pengaruh attitude (X2) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.   Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap attitude (X2) pada tabel 4.13. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 21 orang menyatakan sangat setuju atau 30%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 37 orang atau 52,86%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap sikap pramugraha adalah positif baik. Sedangkan rata-rata 7 orang responden atau 10% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih menganggap sikap pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang kurang baik.
b. Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi X2 (attitude) sebesar 0,107 menyatakan bahwa apabila nilai variabel X2 (attitude) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,107 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (1,983 > 1,669), dan sig t (0,032) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan attitude (X2) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa sikap sabar, ramah, sopan, santun, dan rendah hati mutlak harus dimiliki oleh seorang pramugraha. Karena sikap tersebut merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel.  Artinya semakin baik sikap pramugraha dihadapan tamu maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila sikap pramugraha kurang baik dihadapan tamu maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata memiliki sikap positif baik, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan sikap yang diperlihatkan oleh pramugraha. Untuk itu berarti sikap baik pramugraha harus selalu ditingkatkan terlebih pada orang yang mempunyai kepekaan secara psikologis (kejiwaan). Karena orang yang memiliki kepekaan secara psikologis biasanya cepat tersinggung, mudah marah, dan berlaku kasar.
3.   Pengaruh appearance (X3) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.  Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap appearance (X3) pada tabel 4.17. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 23 orang menyatakan sangat setuju atau 32,38%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 37 orang atau 52,86%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap penampilan pramugraha adalah positif baik. Sedangkan rata-rata 6 orang responden atau 9,05% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih menganggap penampilan pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang kurang baik.
b. Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi X3 (appearance) sebesar 0,166 menyatakan bahwa apabila nilai variabel X3 (appearance) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,166 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (2,489 > 1,669), dan sig t (0,015) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan Appearance (X3) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa penampilan fisik seperti kebiasaan berambut rapi, bersih, serasi dalam memakai sepatu dan seragam, tidak memakai perhiasan atau aksesoris yang berlebihan, tidak berbau badan dan mulut dan non fisik seperti berwajah ceria dan menyenangkan mutlak harus dimiliki oleh seorang pramugraha. Karena penampilan fisik dan non fisik tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel. Artinya semakin baik penampilan fisik dan non fisik pramugraha dihadapan tamu maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila penampilan fisik dan non fisik pramugraha kurang baik maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata memiliki penampilan fisik dan non fisik positif baik, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan penampilan fisik dan non fisik yang diperlihatkan oleh pramugraha. Untuk itu berarti penampilan fisik dan non fisik pramugraha harus terus ditingkatkan seiring dengan semakin berkembangnya industri jasa perhotelan dewasa ini.
4.   Pengaruh attention (X4) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.  Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap attention (X4) pada tabel 4.21. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 18 orang menyatakan sangat setuju atau 25,71%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 37 orang atau 52,86%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap perhatian pramugraha adalah positif baik. Sedangkan rata-rata 8 orang responden atau 11,43% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih menganggap perhatian pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang kurang baik.
b. Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi X4 (attention) sebesar 0,123 menyatakan bahwa apabila nilai variabel X4 (attention) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,123 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (1,992 > 1,669), dan sig t (0,031) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan attention (X4) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian pramugraha seperti respons dan kemauan cepat dalam menindaklanjuti setiap kebutuhan dan keinginan layanan housekeeping, kepedulian penuh terhadap keluhan, kritikan dan saran tamu mutlak harus dimiliki oleh seorang pramugraha. Karena perhatian pramugraha kepada tamu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel. Artinya semakin baik perhatian pramugraha kepada tamu maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila perhatian pramugraha kurang baik maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata memiliki perhatian positif baik kepada tamu, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan perhatian yang diberikan oleh pramugraha. Untuk itu berarti perhatian pramugraha kepada tamu harus selalu ditingkatkan, terlebih kepada tamu-tamu VIP (very important persons). Karena tamu VIP adalah tamu penting yang perlu mendapatkan pehatian khusus, seperti pejabat penting pemerintahan, direktur atau wakil dari sebuah perusahaan, dan orang-orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap perusahaan.
5.   Pengaruh action (X5) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.  Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap action (X5) pada tabel 4.25. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 36 orang menyatakan sangat setuju atau 51,42%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 24 orang atau 34,29%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap tindakan pramugraha adalah positif sangat baik. Sedangkan rata-rata 6 orang responden atau 8,57% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih menganggap tindakan pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang masih belum baik.
b. Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi X5 (action) sebesar 0,348 menyatakan bahwa apabila nilai variabel X5 (action) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,348 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (4,108 > 1,669), dan sig t (0,000) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan action (X5) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan pramugraha seperti menyiapkan kamar agar bersih, rapi, indah, nyaman dan menyenangkan, merawat peralatan dan perlengkapan kamar agar dapat berfungsi dengan baik, handal dalam mengatasi permasalahan kamar yang timbul, adalah mutlak harus dilakukan oleh seorang pramugraha. Karena tindakan tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel. Artinya semakin baik tindakan pramugraha terhadap kamar tamu maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila tindakan pramugraha terhadap kamar tamu kurang baik maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata melakukan tindakan positif sangat baik dalam menangani kamar tamu, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan tindakan yang dilakukan oleh pramugraha dalam menangani kamar. Untuk itu berarti tindakan yang dilakukan pramugraha dalam menangani kamar tamu harus terus ditingkatkan, terlebih pada kamar yang berstatus check out (CO) dan out of order (OO). Karena kamar yang berstatus check out adalah kamar dalam keadaan kotor yang telah ditinggalkan oleh tamunya dan akan ditempati kembali oleh tamu lain yang akan check in (CI), sedangkan kamar yang berstatus out of order adalah kamar yang dalam kondisi rusak dan harus segera ditindaklanjuti sebagaimana mestinya agar dapat berfungsi dalam kondisi baik.
6.   Pengaruh accountability (X6) terhadap kepuasan tamu (Y)
a.  Berdasarkan rata-rata tanggapan responden terhadap accountability (X6) pada tabel 4.29. diketahui dari 70 orang responden, rata-rata 24 orang menyatakan sangat setuju atau 34,29%, sedangkan menyatakan setuju rata-rata 36 orang atau 51,42%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata penilaian responden terhadap tanggung jawab pramugraha adalah positif baik. Sedangkan rata-rata 6 orang responden atau 8,57% menyatakan tidak setuju, artinya sebagian kecil responden masih merasakan tanggung jawab pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang masih kurang baik.
b.  Berdasarkan analisis regresi linier, diketahui nilai koefisien regresi X6 (accountability) sebesar 0,187 menyatakan bahwa apabila nilai variabel X6 (accountability) berubah sebesar 1 satuan, maka nilai variabel Y (kepuasan tamu) akan meningkat sebesar 0,187 dengan asumsi variabel lainnya dianggap nol atau konstan.
c.   Berdasarkan uji hipotesis secara parsial dengan uji t, diketahui t hitung > t tabel (2,984 > 1,669), dan sig t (0,012) < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu (parsial) adanya pengaruh signifikan accountability (X6) terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang.
d.  Simpulan :
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pramugraha terhadap keamanan barang bawaan tamu di dalam kamar, keamanan dan kenyamanan tamu menggunakan peralatan dan perlengkapan kamar, keamanan dan kenyamanan tamu selama berada di dalam kamar mutlak harus dimiliki oleh seorang pramugraha. Karena tanggung jawab pramugraha tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan tamu menginap di hotel. Artinya semakin baik tanggung jawab pramugraha maka akan meningkatkan kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi sebaliknya apabila tanggung jawab pramugraha kurang baik maka akan menurunkan kepuasan tamu menginap di hotel.
Pramugraha Hotel Bumi Asih Pangkalpinang rata-rata memiliki tanggung jawab positif baik, tetapi sebagian kecil tamu masih menganggap kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tamu merasa puas dengan tanggung jawab pramugraha. Untuk itu berarti tanggung jawab pramugraha harus selalu ditingkatkan, terlebih kepada orang-orang yang peka terhadap sesuatu misalnya barang bawaannya tidak boleh berpindah tempat, kehawatiran akan adanya bibit penyakit, kehawatiran akan adanya pencurian dan perampokan, dan lain-lain.
4.4.2.     Dimensi Pelayanan Prima Pramugraha Berpengaruh Signifikan Paling Kecil dan Paling Besar Terhadap Kepuasan Tamu Menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang
Berdasarkan hasil uji koefisien beta pada tabel 4.40. dapat diketahui koefisien beta standar (standardized coefficients β) dari urutan koefisien beta (β) terkecil hingga terbesar pada dimensi pelayanan prima pramugraha yang ada adalah sebagai berikut :
1.    Attitude (X2) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,222 atau 22,2% dan sig 0,032.
2.    Attention (X4) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,232 atau 23,2% dan sig 0,031.
3.    Ability (X1) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,247 atau 24,7% dan sig 0,019.
4.    Appearance (X3) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,249 atau 24,9% dan sig 0,015.
5.    Accountability (X6) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,269 atau 26,9% dan sig 0,012.
6.    Action (X5) mempunyai koefisien beta (β) sebesar 0,440 atau 44% dan sig 0,000.
Jadi attitude (X2) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling kecil terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Sedangkan action (X5) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar terhadap variabel Y (kepuasan tamu) menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dibandingkan dengan dimensi pelayanan prima pramugraha lainnya. 
  
BAB V
PENUTUP
5.1.   Simpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dengan metode kuantitatif dan pengolahan data primer terfokus pada pengujian secara statistik, menggunakan program Microsoft Excel dan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) yang sekarang berubah menjadi Statistical Product and Service Solutions, mengenai pengaruh dimensi pelayanan prima pramugraha terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, maka peneliti dapat menyimpulkan hasil penelitian sebagai berikut:
1.  Adanya pengaruh signifikan dimensi pelayanan prima pramugraha yang terdiri dari ability (X1), attitude X2), appearance (X3), attention (X4), action (X5), dan accountability (X6) secara simultan maupun parsial terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Hal ini disebabkan seluruh dimensi pelayanan prima pramugraha tersebut merupakan bagian dari produk industri jasa perhotelan khususnya pada produk penyewaan kamar hotel yang dapat dirasakan langsung oleh tamu ketika menginap di hotel.
2. Attitude (X2), merupakan dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling kecil terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dibandingkan dengan dimensi pelayanan prima pramugraha lainnya. Hal ini maksudnya adalah prilaku atau perangai baik yang ditonjolkan pramugraha seperti sikap sabar, ramah, sopan dan santun serta sikap rendah hati ketika menghadapi tamu pada dasarnya adalah berpengaruh signifikan terhadap kepuasan tamu menginap di hotel, tetapi tidak terlalu dominan bila dibandingkan dengan indikator pada dimensi pelayanan prima pramugraha lainnya.
3.  Action (X5) merupakan dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Hal ini disebabkan dengan adanya upaya-upaya atau perbuatan nyata yang dilakukan oleh pramugraha terhadap kamar hotel, maka tamu dapat merasakan langsung kamar yang sedang ditempatinya dalam kondisi baik dan menyenangkan. Kamar dalam kondisi baik dan menyenangkan ini tentunya lebih dominan dirasakan oleh tamu selama menginap di hotel dibandingkan dengan indikator pada definisi operasional dimensi pelayanan prima pramugraha lainnya. Sehingga wajar bila action (X5) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar terhadap kepuasan tamu menginap di hotel.

5.2.   Saran
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya dimensi pelayanan prima pramugraha yang berpengaruh signifikan paling kecil hingga yang berpengaruh signifikan paling besar terhadap kepuasan tamu menginap di hotel. Dengan demikian secara khusus peneliti dapat memberikan saran kepada pihak Hotel Bumi Asih Pangkalpinang sebagai berikut :
1.  Attitude (X2) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling kecil dari semua dimensi yang ada terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Untuk itu perlu adanya perhatian khusus dari pihak manajemen hotel agar kesadaran dan inisiatif pramugraha untuk bersikap lebih baik lagi kepada tamu dapat terus ditingkatkan.
2.  Attention (X4) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling kecil kedua terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Untuk itu pihak manajemen hotel perlu mengadakan pengarahan (briefing) secara rutin kepada pramugraha agar perhatian pramugraha kepada tamu akan semakin baik dan terus meningkat.
3. Ability (X1) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling kecil ketiga terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Untuk itu pihak manajemen hotel perlu mengadakan pendidikan dan pelatihan secara berkala kepada pramugraha agar kemampuan pramugraha akan terus meningkat meskipun pada dasarnya sudah baik.
4. Appearance (X3) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar ketiga terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Meskipun penampilan pramugraha pada dasarnya sudah baik tetapi pihak manajemen hotel harus selalu memberikan perhatian agar penampilan pramugraha baik secara fisik maupun non fisik dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan.
5.  Accountability (X6) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar kedua terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Meskipun tanggung jawab pramugraha pada dasarnya sudah baik tetapi pihak manajemen hotel harus mempertahankan dan meningkatkan tanggung jawab pramugraha tersebut dengan salah satu cara yakni secara terus menerus mensosialisasikan visi dan misi hotel yang dimiliki.
6.   Action (X5) adalah dimensi pelayanan prima pramugraha berpengaruh signifikan paling besar dari semua dimensi yang ada terhadap kepuasan tamu menginap di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang. Meskipun upaya-upaya atau tindakan nyata yang dilakukan pramugraha terhadap kamar tamu pada dasarnya sangat baik, tetapi pihak manajemen hotel tidak boleh lengah apa lagi cepat merasa puas. Untuk itu hendaknya harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaharui dan meningkatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) menyiapkan kamar tamu yang sudah ada secara terus menerus serta memperkecil tingkat rolling karyawan antar bagian.
Kemudian saran secara umum yang berhubungan dengan penerapan dimensi pelayanan prima dapat juga peneliti berikan kepada semua pihak yang menggeluti industri jasa, mungkin dapat dijadikan sebagai bahan masukan. Saran tersebut adalah sebagai berikut :
1.  Perlu adanya pemahaman mengenai dimensi pelayanan prima beserta definisi operasional dengan indikatornya yang memungkinkan untuk dapat diterapkan pada produk jasa lainnya, sehingga dapat meningkatkan kepuasan konsumen demi kemajuan suatu industri jasa.
2.  Penerapan dimensi pelayanan prima pramugraha perlu untuk diperhatikan oleh semua industri jasa perhotelan karena merupakan bagian dari produk kamar hotel. Artinya tamu akan merasa puas menggunakan produk kamar hotel apabila diiringi dengan adanya pramugraha yang mampu menerapkan dimensi pelayanan prima dengan baik.
3. Penerapan dimensi pelayanan prima pramugraha di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang pada dasarnya sudah baik, tetapi tidak semua tamu merasa puas dengan semua pelayanan prima yang telah diberikan. Untuk itu perlu terus ditingkatkan seiring dengan berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta adanya persaingan bisnis jasa perhotelan yang semakin meningkat dewasa ini.
4. Untuk meningkatkan pelayanan prima di suatu industri jasa, maka pihak manajemen perusahaan harus selalu mengadakan pendidikan dan pelatihan kepada sumber daya manusia, yang penerapan dimensinya disesuaikan dengan definisi variabel dan indikator pada definisi operasional pelayanan prima dalam bidang tugas masing-masing. Di samping itu perlu diciptakannya suatu budaya organisasi yang terus menerus dapat menerapkan dimensi pelayanan prima di semua bagian atau departemen sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.


DAFTAR PUSTAKA

Adam, JR. Everett dan Ebert J. Ronald, 1995. Production and Operation Management, New Jersey: Prentice Hall inc.

Agusnawar, 2002. Operasional Tata Graha Hotel (Hotel Housekeeping Operation), Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ariefraf, 2008. Standar Operasional Prosedur, http://ariefraf.wordpress.com

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Azwar, Syaifudin, 2003. Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset.

Bagiyono, 2000. Manajemen Housekeeping Hotel, Bandung : Alfabeta.

Band, Oliver, 1991, Membangun Kepuasan Pelanggan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Barata, Adya, Atep. 2004. Dasar-Dasar Pelayanan Prima, Jakarta: Elex Media Komputindo.

Cambridge International Dictionary of English. 1995. Oakleigh: Cambridge University Press.

Echols, M. John, dan Shadily, Hassan, 2003. Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Darsono, Agustinus, 1995. Tata Graha Hotel Housekeeping, Jakarta: PT. Gramedia Widya Sarana Indonesia.

Dimyati, AAN. Surachlan, 1989. Pengetahuan Dasar Perhotelan, Jakarta: PT. Anem Kosong Anem.

Djarwanto, PS. dan Subagyo Pangestu. 2000. Statistik Induktif. Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.

Elhaitami, 2002. Service Excellent/Pelayanan Prima, Jakarta: Renika Cipta.

Ferrinadewi, Erna, dan Darmawan, Didit, 2004. Prilaku Konsumen: Analisis Model Keputusan, Yogyakarta : Universitas Atmajaya.

Fornel, C. and Wernefelt, B. (1987), Defensife Marketing Strategy by Custumer Complaint Management, Theoretical Analisys: Journal of Service Research.

Gaspersz, 1997. Manajemen Kualitas : Penerapan konsep-konsep kualitas dalam Manajemen Bisnis Total, Jakarta: Media Pustaka Utama.

Ghozali Imam, 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Greising, David, 1994. Quality : How to make it pay, Business week, Augustus (8).

Hidayat, Alimul, Azis, 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknis Analisis Data, Jakarta: Salemba Medika.

Hotel Bumi Asih Group, http://www.hotelbumiasih.com

Indratno, T, Ferry, 2001. Prinsip-prinsip Tata Graha, Yogyakarta: Kanisius

Irawan, Handi, 2000. Prinsip-prinsip Kepuasan Pelanggan. Yogyakarta : Andi.

ISO 9000:2000, Dasar dan Kosa Kata Sistem Manajemen Mutu, Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia: http://jurnal-sdm.blogspot.com

Jerome, E. dkk. 1993. Dasar-Dasar Pemasaran, Edisi Ke-lima, Jakarta: Erlangga.

Junaidi, 2010. Tip dan Trik, Tabel (r, f, t), http://junaidichaniago.wordpress.com

Kotler, Philip, 1997, Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan, Implementasi dan Kontrol, Jilid I, Jakarta: PT Prehalindo.

Kotler, Philip, 2002. Marketing Management. Edisi Milenium 2. Diterjemahkan oleh Hendra Teguh, Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT. Prehalindo.

Munavizt, Setzer, 2010. Housekeeping atau Tata Graha, http://pariwisatadanteknologi. blogspot.com  

Nasution, M. Nur. 2004. Manajemen Jasa Terpadu, Bogor: Ghalia Indonesia.

Parasuraman, Zeithmal, Bitner dkk. 1985. A Conceptual Model of Service Quality and its Implications for Future Research. Dalam Journal of Marketing. Vol 49 (Fall 1985).

Parasuraman, Zeithmal, Bitner dkk. (1988), Konsep dan Teknik Pengukuran Kualitas Produk Jasa, Kajian Bisnis dan Manajemen, Vol 4, No I.

Payne, Andrian, 2000. Pemasaran Jasa (The Essence of Service Marketing), Terjemahan Fandy Tjiptono, Edisi 1, Cetakan 1, Yogyakarta: Andi.

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, No. : PM. 86/HK.501/MKP/2010. Tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Penyediaan Akomodasi.

Perwani, Sri, Yayuk, 1992. Teori dan Petunjuk Praktek Housekeeping untuk Akedemi Perhotelan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Pratiknya, W. Ahmad (2007). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rahman, Arief, Abd. 2005. Housekeeping Operational Manual, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rangkuti, Freddy. 2002. Measuring Customer Satisfaction, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Reicheld, F, and Sasser Jr. EW, Zero Defection, 1990. Quality Comes to Services, Harvard Business Review, September (68).

Rumekso, 2001. Housekeeping – Floor Section, Yogyakarta: Andi.

Santoso, Singgih, Tjiptono, Fandy, 2001. Riset Pemasaran Konsep dan Aplikasi dengan SPSS, Jakarta: PT. Alex Media Komputindo.

Satria, 2008. Definisi, Fungsi, dan Tujuan Standard Operating Procedure (SOP), http://id.shvoong.com

Sihite, Richard, 2000. Hotel Management, Housekeeping, Surabaya: SIC

Sudjana. 1992. Statistika Untuk Ekonomi dan Niaga , Jilid 1, Bandung: Tarsito.

Sugiyono, 1999. Statistik untuk Penelitian, Bandung: CV. Alfabeta.

Sugiyono, 2001. Metode Penelitian Bisnis, Bandung: CV. Alfabeta.

Sulastiyono, Agus, 2001. Manajemen Penyelenggaraan Hotel, Teknik dan Prosedur Divisi Kamar pada Bidang Hotel, Bandung: Alfabeta.

Supranto, J. 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Jakarta: Rineka Cipta.

Sutopo dan Suryanto, Adi, 2003. Pelayanan Prima. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.

Sutrisno, Hadi. 2000. Metodologi Research. Yogyakarta : BPFE.

Suwithi, Wayan, Ni, dan Boham, Jr, Erwin, Cecil, 2008. Akomodasi Perhotelan. Jilid 1 dan 2 SMK, Direktorat PSM Kejuruan, Direktorat Jenderal Mendikdasmen, Depdiknas, Jakarta.

Swastha, Basu,1984. Azas-Azas Marketing, Edisi Ketiga, Yogyakarta : Liberty.

Swastika, 2005. Pengaruh Pelayanan Prima (Service Excellence) Terhadap-Kepuasan Pelanggan, Jurnal Skripsi Ekonomi, http://jurnalskripsi.com

Tarigan, Darnius, 2010. Hotel Housekeeping, Exellence Housekeeping Knowledge, http://tatagraha.com

Tjiptono, Fandy, 1995. Manajemen Jasa, Yogyakarta: Andi Offset.

Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran, Analisis Kepuasan Pelanggan Sebagai Dasar Penyusunan Strategi Pemasaran Defensif, Yogyakarta: Andi Offset.

Trigono, 1998. Pelayanan Prima (Excellent Service), Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Umar, Husein, 2003. Riset Pemasaran & Prilaku Konsumen, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1999, Tentang Perlindungan Konsumen.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009, Tentang Kepariwisataan.

Zeithaml, Piercy, et al. 1996. Measuring the Quality of Relationship in Customer service: An empirical study, European. Journal of Marketing.


Tidak ada komentar: