TUGAS
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Dosen pengampuh : Drs. Mengku Marhendi, M.Par.
Nama : A Beach Eagle (Irwansyah)
N I M : 10.52.0504
Jurusan : Manajemen Perhotelan
Program : Strata Satu (S1)
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PARIWISATA INDONESIA (STIEPARI) SEMARANG TAHUN 2011
Blog Support : KLIK DI SINI
Sponsored by KLIK DI SINI
Blog Support : KLIK DI SINI
Sponsored by KLIK DI SINI
KATA PENGANTAR
SDM pariwisata merupakan faktor utama dan strategis bagi tercapainya keberhasilan pembangunan sektor kepariwisataan suatu bangsa. SDM pariwisata yang kuat dan berdaya saing tinggi akan mendukung peningkatan pembangunan khususnya di bidang kepariwisataan.
Untuk memenangkan dan menangkap peluang yang ada, maka pengembangan SDM pariwisata merupakan suatu keniscayaan. Pengembangan SDM pariwisata harus ditekankan pada penguasaan kompetensi yang fokus pada suatu bidang tertentu yang pada gilirannya akan mampu berdaya saing di tingkat nasional, regional maupun internasional. Untuk mewujudkan SDM pariwisata seperti yang dicita-citakan tersebut diperlukan kerja keras karena akan menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang berat.
Pembangunan di bidang pariwisata menghadapi permasalahan mendasar yang dihadapi adalah masih terbatasnya SDM pariwisata di tataran perencana dan pengelola, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Pembangunan SDM pariwisata dapat meningkatkan kualitas SDM pariwisata dalam mendukung upaya mewujudkan dan membentuk karakter bangsa yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mengingat pentingnya pengembangan SDM pariwisata dalam pembangunan nasional, maka diperlukan kajian-kajian yang dapat memberikan masukkan kepada semua pihak agar dalam menerapkan berbagai kebijakan dalam pembangunan kepariwisataan dapat berdaya guna dan tepat pada sasaran. Melalui kajian ini diharapkan dapat dirumuskan arah kebijakan dan strategi pengembangan SDM pariwisata. Akhir kata, semoga kajian SDM pariwisata ini bermanfaat bagi semua pihak, terutama yang berkepentingan dalam pengembangan SDM pariwisata.
Semarang, September 2011
A Beach Eagle
(Irwansyah)
(Irwansyah)
PENGEMBANGAN SDM INDONESIA DI BIDANG PARIWISATA
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
SDM merupakan faktor utama dan strategis bagi tercapainya keberhasilan pembangunan suatu bangsa. SDM yang kuat dan berdaya saing tinggi dalam berbagai aspek akan mendukung peningkatan pembangunan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang sosial dan budaya. SDM yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan di era globalisasi yang diwarnai dengan semakin ketatnya persaingan serta tiadanya batas antar negara (borderless nation) dalam interaksi hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk memenangkan dan menangkap peluang yang ada, pengembangan SDM harus ditekankan pada penguasaan kompetensi yang fokus pada suatu bidang tertentu yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
SDM yang berkualitas akan mendorong terciptanya produktivitas yang tinggi yang akan menjadi modal dasar bagi keberhasilan pembangunan perekonomian secara nasional. Selain itu, dalam menjawab berbagai tantangan dan peluang ke depan, dibutuhkan pula SDM yang berjiwa wirausaha, yang dapat memanfaatkan keunggulan sumber daya (comparative advantage) menjadi keunggulan daya saing (competitive advantage) dengan proses transformasi nilai tambah (added value) dan tranformasi teknologi sebagai acuan. Dengan tumbuhnya masyarakat yang berjiwa wirausaha diharapkan akan mampu menjadi modal dasar dalam membangun perekonomian nasional untuk mensejahterakan kehidupan bangsa dan pada akhirnya akan memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam mewujudkan SDM seperti yang dicita-citakan tersebut diperlukan kerja keras untuk menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang berat.
Pembangunan sektor pariwisata menghadapi permasalahan mendasar antara lain masih terbatasnya SDM pengelola, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Daya saing SDM pariwisata Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Masih rendahnya daya saing tersebut dapat dilihat dari ketimpangan antara proporsi SDM pada level operasional dibandingkan dengan SDM pada level manajemen, pemikir maupun perencana. Kondisi ini disebabkan pendidikan dan keterampilan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK sampai dengan Diploma atau Program Setara Diploma dan Strata 1 lebih memprioritaskan pada pendidikan dan pelatihan praktis (practical skills) untuk SDM pariwisata di tingkat pelaksana (practical workers), dan kurang memberi perhatian pada pembekalan keilmuan yang dapat mempersiapkan SDM berkompetensi tinggi.
Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan SDM pariwisata adalah sebagai berikut:
a. Belum teridentifikasinya ketersediaan SDM di bidang pariwisata baik secara kuantitas maupun kualitas.
b. Belum teridentifikasinya tingkat kebutuhan SDM baik secara kuantitas maupun kualitas dalam rangka pembangunan bidang pariwisata baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
c. Belum teridentifikasinya berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan peningkatan daya saing SDM guna pembangunan bidang pariwisata dalam menghadapi tantangan yang terjadi baik nasional, regional maupun internasional.
d. Kurangnya keterpaduan kebijakan pemerintah dalam hal ini departemen terkait dalam pengembangan SDM pariwisata.
Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan pengumpulan informasi sebagai bahan masukan bagi penyusunan suatu kebijakan dan strategi pembangunan SDM pariwisata sebagai upaya yang terarah, terpadu dan terencana untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM di bidang pariwisata. Sehingga pada akhirnya pembangunan SDM dapat meningkatkan kualitas SDM dalam mendukung upaya mewujudkan dan membentuk karakter bangsa yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Tujuan, Sasaran, dan Manfaat
2.1 Tujuan Umum
Kajian ini bertujuan untuk memberikan arah kebijakan dan strategi pengembangan serta peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pengelola di bidang pariwisata Indonesia.
2.2. Tujuan Khusus
Secara khusus kajian ini bertujuan untuk:
a) Melakukan identifikasi terhadap potensi dan kebutuhan (supply and demand) SDM pariwisata di pasar regional maupun internasional.
b) Melakukan identifikasi kompetensi, pengetahuan, dan keahlian SDM pariwisata yang dibutuhkan dalam perspektif masa kini dan masa depan.
c) Mendapatkan gambaran analisa situasi pembangunan SDM pariwisata khususnya kondisi dan permasalahan yang dihadapi.
d) Melakukan indentifikasi posisi daya saing SDM pariwisata di pasar global.
e) Melakukan identifikasi lembaga pendidikan di bidang pariwisata.
f) Mendapatkan gambaran tentang benchmarking terkait implementasi dari strategi dan kebijakan pengembangan SDM pariwisata di berbagai negara.
g) Mendapatkan gambaran tentang arah kebijakan nasional pembangunan SDM di bidang pariwisata berdasarkan review peraturan perundangan dan kelembagaan yang ada.
h) Mendapatkan rekomendasi kebijakan, strategi dan pola kerja sama (kemitraan) dalam pembangunan SDM pariwisata.
2.3. Sasaran
Sasaran kajian ini adalah:
(1) Teridentifikasinya data dan informasi perkembangan SDM pariwisata; dan
(2) Terumuskannya rekomendasi arah kebijakan dan strategi pengembangan SDM parwisata.
2.4. Manfaat Kajian
Kajian ini diharapkan dapat memberikan arahan kebijakan dan strategi pengembangan SDM parwisata Indonesia untuk dapat bersaing di kanca nasional, regional maupun internasional.
3. Ruang Lingkup Kajian
a) Melakukan analisis terhadap kondisi SDM bidang pariwisata.
b) Melakukan kaji ulang dan analisis terhadap ketersediaan dan kebutuhan SDM pariwisata.
c) Melakukan kaji ulang dan analisa peraturan perundang-undangan dan peraturan di pusat maupun daerah terkait dengan pembangunan SDM bidang pariwisata.
d) Melakukan kaji ulang dan analisis kelembagaan pendidikan dan latihan SDM pariwisata yang bersifat nasional maupun daerah.
e) Melakukan benchmarking dari kebijakan pengembangan SDM pariwisata dengan berbagai negara.
4. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam kajian kali ini adalah deskriptif-analitis dengan dukungan review dan analisa kebijakan, review dan analisa ketersediaan dan kebutuhan (suply and demand) SDM di bidang pariwisata, diperkuat dengan pendalaman materi melalui pengumpulan data primer maupun sekunder yang diperoleh di lapangan maupun berdasarkan desk study.
4.1. Langkah-langkah Kajian
Adapun Kajian ini dilaksanakan melalui tahapan pelaksanaan sebagai berikut:
(a). Analisa Situasi. Tahap analisa situasi dilakukan untuk melihat perkembangan pembangunan serta identifikasi kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di bidang pariwisata.
(b). Review Awal. Tahap review awal dilakukan untuk mengidentifikasi perkembangan faktor-faktor (permasalahan dan tantangan) yang mempengaruhi pembangunan pariwisata serta identifikasi arah pembangunan untuk masa yang akan datang.
(d). Perumusan. Tahap perumusan dilakukan untuk menyusun background study pariwisata.
(e). Studi Pustaka. Dilakukan dengan cara menggali informasi dari berbagai sumber tertulis seperti buku, laporan hasil kajian, peraturan perundang-undangan, studi best practices dari negara-negara lain, dan referensi tertulis lainnya yang relevan dengan tujuan studi.
B. PEMBAHASAN
1. Analisa Situasi
Analisis situasi pengembangan SDM pariwisata Indonesia ini, diawali dengan memotret kondisi SDM pariwisata Indonesia, termasuk pembahasan mengenai terminologi terkait dengan SDM Pariwisata seperti pengertian SDM pariwisata, peranan SDM dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia, klasifikasi SDM pariwisata dan beberapa data pendukung yang dapat menggambarkan perkembangan SDM kepariwisataan Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas. Selain itu, diuraikan pula isu-isu strategis dalam pengembangan SDM kepariwisataan Indonesia, kaji ulang kebijakan, program, dan kegiatan pokok pengembangan SDM kepariwisataan, dan bechmarking pengalaman beberapa Negara yang dapat dijadikan sebagai perbandingan dalam upaya pengembangan SDM kepariwisataan di masa yang akan datang.
1.1. Potret SDM Pariwisata
Salah satu potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia dalam mengembangkan sektor pariwisata sebagai sektor andalan pemasukan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakat adalah jumlah penduduk yang saat ini telah mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Potensi Indonesia untuk menjadi salah satu negara tujuan wisata utama dunia tidak disangsikan lagi. Hal ini dikarenakan potensi pariwisata Indonesia yang besar, seperti kekayaan alam, keanekaragaman budaya dan bahasa daerah, jumlah penduduk yang saat menduduki urutan ketiga terbesar di dunia, merupakan berbagai kekuatan yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia berpeluang untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor andalan bagi pendapatan Negara dan kesejahteraan masyarakat.
Namun, kondisi saat ini, posisi daya saing sektor pariwisata Indonesia semakin menurun. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya indeks daya saing baik daya saing yang mengindikasi bahwa masih ada kendala-kendala yang perlu ditangani, salah satunya terkait pengelolaan SDM. Menurut The Travel &Tourism Competitive Index, Indikator SDM Pariwisata Indonesia menduduki peringkat ke 42 dari 133 negara. Keunggulan Indonesia terletak pada indikator Daya Saing Harga (Price Competitiveness) yang berada pada peringkat ke 3 dan Prioritas terhadap Industri Pariwisata di peringkat ke 10 (WEF, 2009).
Di banyak negara, dalam proses perencanaan dan pengembangan kepariwisataan, pembahasan tentang SDM yang dibutuhkan dalam pelayanan kegiatan kepariwisataan yang benar dan efektif seringkali mendapat perhatian yang rendah. Dalam beberapa kasus, bahkan sama sekali diabaikan. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya permasalahan serius dalam industri kepariwisataan, dan memungkinkan terhalangnya partisipasi masyarakat setempat dalam kegiatan ekonomi yang dikembangkan dari pengembangan kepariwisataan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai peran dan kondisi SDM dalam industri pariwisata, maka pada pembahasan ini akan mengidentifikasi dan merumuskan pengertian SDM pariwisata, jenis dan klasifikasinya, peranannya terhadap perkembangan industri pariwisata, posisi daya saing dan kebutuhan di masa yang akan datang.
1.1.1. Pengertian SDM Pariwisata
Keberadaan SDM berperanan penting dalam pengembangan pariwisata. SDM pariwisata mencakup wisatawan/pelaku wisata (tourist) atau sebagai pekerja (employment). Peran SDM sebagai pekerja dapat berupa SDM di lembaga pemerintah, SDM yang bertindak sebagai pengusaha (wirausaha) yang berperan dalam menentukan kepuasan dan kualitas para pekerja, para pakar dan profesional yang turut berperan dalam mengamati, mengendalikan dan meningkatkan kualitas kepariwisataan serta yang tidak kalah pentingnya masyarakat di sekitar kawasan wisata yang bukan termasuk ke dalam kategori di atas, namun turut menentukan kenyamanan, kepuasan para wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
Dengan merujuk pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pengertian SDM dapat terkait dengan Pariwisata adalah “berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.” Sedangkan yang dimaksud dengan Kepariwisataan adalah “seluruh kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antar wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah daerah, dan pengusaha”. Sedangkan Industri Pariwisata adalah “kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.”
Berdasarkan ke tiga pengertian pariwisata di atas maka yang dimaksud dengan SDM Pariwisata adalah Seluruh aspek manusia yang mendukung kegiatan wisata baik bersifat tangible maupun intangible yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan terciptanya kepuasan wisatawan serta berdampak positif terhadap ekonomi, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan dan budaya di suatu kawasan wisata.
1.1.2. Peran SDM dalam Industri Pariwisata
Pariwisata sebagai sebuah industri yang sangat bergantung pada keberadaan manusia. Terwujudnya pariwisata merupakan interaksi dari manusia yang melakukan wisata yang berperan sebagai konsumen yaitu pihak-pihak yang melakukan perjalanan wisata/wisatawan dan manusia sebagai produsen yaitu pihak-pihak yang menawarkan produk dan jasa wisata. Sehingga aspek manusia salah satunya berperan sebagai motor penggerak bagi kelangsungan industri pariwisata di suatu negara.
SDM merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam memajukan sektor pariwisata. Pentingnya SDM di sektor pariwisata adalah manusia (people) merupakan sumber daya yang sangat penting di sebagian besar organisasi. Khususnya di organisasi berbasis jasa (service-based organization), SDM berperan sebagai faktor kunci dalam mewujudkan keberhasilan kinerja (Evans, Campbell, & Stonehouse, 2003). Pada beberapa industri, faktor manusia berperan penting dan menjadi faktor kunci sukses terhadap pencapaian kinerja. Seperti pada industri pariwisata, dimana perusahaan memiliki hubungan langsung yang bersifat intangible (tak berwujud) dengan konsumen yang sangat bergantung pada kemampuan individu karyawan dalam membangkitkan minat dan menciptakan kesenangan serta kenyaman kepada para konsumennya (Lynch, 2000). Pengalaman tamu atau konsumen di dalam industri pariwisata merupakan aktivitas yang memiliki intensitas dan intimasi yang sangat tinggi dan tidak mudah untuk direplikasi oleh industri jasa yang lainnya. Pengalaman interaktif tersebut umumnya terjadi dengan para karyawan di garis depan (front-liners) yang umumnya memiliki status yang paling rendah, yang paling sedikit mengenyam program pelatihan dan merupakan para karyawan yang digaji paling rendah pula (Baum, 1996).
Kesadaran pemerintah terhadap pentingnya peran SDM dalam industri pariwisata telah terlihat paling tidak sejak pemerintahan orde baru. Pada tahun 1993, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan PATA/WTO Human Resource for Tourism Conference yang diselenggarakan di Bali. Peranan Indonesia sebagai tuan rumah bagi penyelenggaraan konferensi pariwisata tingkat internasional yang diikuti oleh berbagai Negara di dunia ini, menunjukkan perhatian pemerintah Indonesia terhadap isu penting SDM terhadap kelangsungan industri pariwisata dunia khususnya di Indonesia. Hal ini tercermin dari apa yang diungkapkan oleh Joop Ave yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, yang menyatakan bahwa sebagai sebuah industri jasa (service industry), pariwisata sepenuhnya tergantung kepada manusia yang membuat industri tersebut berlangsung. Kualitas dan keterampilan manusia melayani para wisatawan sebagai konsumen dalam industri ini sangat menentukan keberhasilan suatu daerah tujuan wisata dibandingkan dengan yang lainnya, Demikian juga atraksi wisata di suatu daerah tujuan wisata, intinya merupakan faktor manusia yang akan menentukan apakah para pengunjung (wisatawan) akan memperoleh pengalaman total dan akan berkunjung kembali. Pengembangan SDM di industri pariwisata saat ini menghadapi tantangan global yang memerlukan solusi dengan menembus batasan-batasan Negara, wilayah dan benua. Salah satu solusi yang perlu ditempuh adalah dengan meningkatkan kompetensi SDM yang dimiliki suatu Negara termasuk Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan yang tepat.
Dari uraian di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa terdapat beberapa peran penting keberadaan SDM di industri pariwisata, yaitu sebagai motor penggerak kelangsungan industri; pelaku utama yang menciptakan produk inti pariwisata (pengalaman); dan salah satu faktor penentu daya saing industri.
1.1.3. Jenis/Klasifikasi SDM Pariwisata
Dari definisi pariwisata, kepariwisataan dan industri pariwisata di atas, keterlibatan manusia dalam kepariwisataan, dapat dikelompokkan menjadi: (1) manusia sebagai orang yang melakukan perjalanan wisata (wisatawan) dan (2) manusia baik individu maupun kelompok yang bertindak sebagai pihak yang menghasilkan produk dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Penekanan pengertian SDM dalam kajian ini adalah SDM dari sisi supply yaitu pihak-pihak yang bekerjasama dalam usaha menghasilkan produk/atau jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan SDM Kepariwisataan adalah “seseorang maupun sekelompok orang yang terlibat dalam kegiatan kepariwisataan yang berperan dalam usaha menghasilkan dan menciptakan produk/jasa untuk pemenuhan kebutuhan wisatawan.” (RPJMN 2010-2014 bidang kebudayaan, parwisata, pemuda dan olahraga).
Dari definisi tersebut maka SDM Pariwisata dapat dikelompokkan menjadi:
Ø SDM yang berada di lembaga pemerintahaan yang menghasilkan kebijakan dan peraturan dalam pembangunan kepariwisataan;
Ø SDM yang berada dalam lembaga pendidikan namun belum terlibat langsung dalam usaha pariwisata meliputi: Manajemen Lembaga Pendidikan, Pendidik dan Anak didik (siswa atau mahasiswa);
Ø SDM yang telah terlibat langsung dalam kegiatan usaha pariwisata sebagai pihak yang berperan menghasilkan produk dan/atau jasa bagi wisatawan di dalam suatu kegiatan usaha formal, yang dapat dikelompokkan menjadi :
ü Pengusahaan usaha pariwisata, meliputi para pengusaha sektor formal usaha pariwisata yang mengelola berbagai jenis usaha pariwisata.
ü Pekerja usaha pariwisata yang bernaung dibawah suatu usaha pariwitasa sektor lembaga formal.
Ø Masyarakat yang berada di luar sektor lembaga formal namun terkait dengan bisnis pariwisata.
Bila mengacu kepada pariwisata sebagai suatu industri, maka SDM manusia kepariwisataan adalah orang-orang yang terlibat menghasilkan kebutuhan wisatawan di usaha pariwisata meliputi antara lain: daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa transportasi wisata, jasa perjalanan wisata, jasa makan dan minuman, penyediaan akomodasi, penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi, penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran (MICE), jasa informasi pariwisata, jasa konsultan pariwisata, jasa pramuwisata, wisata tirta, dan spa.
Sementara itu, pengelompokkan kepariwisataan (tourism) menurut versi UNWTO, yaitu SDM yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan:
· Usaha jasa pariwisata (tourism sector), yang meliputi biro perjalanan wisata, dan airlines,
· Usaha jasa hospitalitas mencakup usaha penyediaan akomodasi/penginapan (accomodation), usaha penyediaan makanan dan minuman (food and beverage service) dan katering (catering), dan usaha hiburan (entertainment and leisure).
Dalam kajian ini, penekanan pembahasan tentang pengembangan SDM dikelompokkan menjadi:
v SDM kepariwisataan yang berada di industri pariwisata meliputi tenaga kerja pariwisata, dan pengusaha pariwisata,
v SDM kepariwisataan yang berada di lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan kepariwisataan, dan lembaga pemerintahan meliputi anak didik (siswa/mahasiswa), pendidik (guru/dosen), pengelolaan (manajemen) lembaga pendidikan, dan aparat pemerintah (birokrat).
Sejalan dengan peran penting SDM pariwisata dalam meningkatkan daya saing, faktor manusia merupakan bagian dari faktor-faktor pembentuk daya saing industri di suatu negara. Menurut Cho & Moon, untuk melihat daya saing industri, salah satu model yang dapat digunakan adalah ‘model sembilan faktor penentu daya saing relatif suatu industri’. Model ini merupakan model perluasan dari "Model Diamond’s
Porter" seperti pada gambar di bawah ini.
Model Sembilan Faktor Daya Saing (Cho & Moon, 2003)
Dari model diatas, dapat dijelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi daya saing relatif suatu Negara dibandingkan oleh Negara lain secara internasional. Secara umum berbagai faktor meliputi faktor fisik, manusia dan eksternal (peristiwa peluang). Adapun terkait faktor manusia, dikatakan bahwa faktor manusialah yang memobilisasi faktor fisik. Orang menggabungkan dan menyusun faktor fisik dengan maksud untuk memperoleh daya saing internasional. Para pekerja, politis dan birokrat, para wirausahawan, dan manajer serta insinyur yang profesional harus dipertimbangkan.
1.1.4. Penyediaan dan Kebutuhan SDM Pariwisata
SDM merupakan salah satu faktor sangat penting dalam pembangunan kepariwisataan mengingat pariwisata merupakan industri jasa yang pada umumnya melibatkan manusia sebagai faktor penggeraknya. Oleh karenanya pendidikan dan pelatihan di bidang pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menciptakan SDM pariwisata yang andal dan profesional baik secara kuantitas maupun kualitas dalam mendorong pertumbuhan pariwisata secara signifikan.
Untuk memperoleh SDM pariwisata yang berdaya saing global diperlukan upaya yang sistematis dengan menekankan pada kompetensi lulusan dan kematangan emosi. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata baik di tingkat SLTA atau yang disetarakan maupun di tingkat perguruan tingga/akademi sangat penting dalam menghasilkan tenaga trampil terdidik yang berdaya saing global.
Menurut The Travel & Tourism Competitive Index, Indikator SDM Pariwisata Indonesia menduduki peringkat ke 42 dari 133 negara. Keunggulan Indonesia terletak pada indikator Daya Saing Harga (Price Competitiveness) pada peringkat ke 3 dan Prioritas terhadap Industri Pariwisata di peringkat ke 10 (WEF, 2009). Dengan demikian, sesungguhnya kualitas SDM tidaklah seburuk apa yang dikemukakan oleh para pakar di berbagai tulisan.
Pembahasan tentang SDM di berbagai literatur dan laporan di berbagai negara, umumnya mengacu kepada pengertian manajemen SDM dari sisi manajemen, sehingga ruang lingkup pembahasan berkisar pada bagaimana merencanakan, mengelola, mengembangkan dan menilai SDM yang ada di suatu organisasi, baik dari tingkat korporasi sampai pada tingkat unit bisnis. Pengertian SDM yang ditekankan dalam hal ini pun mengacu kepada SDM sebagai karyawan (employee). Sehingga umumnya pembahasan berkisar pada peranan tenaga kerja (employment) di suatu organisasi.
Dalam kajian ini, pengertian SDM yang menjadi fokus perhatian adalah tidak terbatas pada SDM sebagai tenaga kerja, melainkan semua pihak yang terlibat dalam industri pariwisata di Indonesia, seperti SDM yang berda di lembaga pendidikan tinggi, SDM yang telah lulus dari lembaga pendidikan tinggi namun belum memperoleh pekerjaan, SDM yang telah berada di industri (pengusaha), dan SDM yang berada di pemerintah (aparat pemerintah), dan SDM yang berada di luar lembaga formal yang terkait dengan kepariwisataan di suatu kawasan wisata yang turut memberikan andil dan peran terhadap perkembangan kepariwisataan.
Secara lebih lanjut untuk lebih memahami langkah-langkah yang diperlukan dalam pengembangan SDM pariwisata, dapat dilakukan melalui analisis berdasarkan aspek penyediaan (supply) dan kebutuhan atau permintaan (demand).
Dari sisi produksi atau penyediaan, sistem pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk kualifikasi dan kompetensi SDM pariwisata. Hal ini terkait dengan lembaga pendidikan formal yaitu perguruan tinggi (PT) yang memiliki program studi bidang pariwisata dan SMK bidang pariwisata, dan lembaga pendidikan nonformal seperti balai latihan kerja (BLK) dan lembaga-lembaga pelatihan lainnya. Peran lembaga pendidikan dalam penyediaan SDM pariwisata untuk pasar dalam negeri, diharapkan selain dapat mengisi peluang kerja dalam konteks operasional (perhotelan, restoran dan katering, usaha perjalanan, dan atraksi wisata), juga diharapkan dapat mengisi kebutuhan tenaga konseptor seperti perencana dan peneliti pembangunan pariwisata. Lulusan pariwisata untuk keperluan pasar luar negeri yang pada umumnya merupakan tenaga kerja operasional. Sementara SMK bidang pariwisata diarahkan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja trampil di sisi operasional, peran lembaga pendidikan tinggi dapat menjadi lembaga pencetak a). akademisi, peneliti, dan perencana yang memerlukan kompetensi dalam pengembangan tentang pariwisata sebagai ilmu (tourism as science), b). teknokrat pemerintah, yang memerlukan kompetensi dalam pengembangan rancang bangun pariwisata, manajemen kebijakan, hukum, administrasi pembangunan pariwisata, c). profesional, yang memerlukan kompetensi dan keahlian dalam aspek menajerial usaha pariwisata (industri), dan d). tenaga teknis/operasional yang memerlukan kompetensi dalam keterampilan tugas-tugas teknis dalam usaha pariwisata.
a). Sisi Penyediaan (Supply)
Gambaran sisi penyediaan antara lain dapat dilihat dari jumlah PT, SMK, dan siswa yang mengikuti pendidikan bidang pariwisata. Pada periode tahun 2007/2008 terdapat 415 sekolah pariwisata setingkat sekolah kejuruan (SMK) di Indonesia. Daerah yang memiliki SMK pariwisata adalah Jawa Timur sebanyak 82 sekolah, disusul DKI Jakarta sebanyak 53 sekolah. Bali sebagai barometer pariwisata hanya memiliki 23 sekolah. Selanjutnya siswa yang tercatat mengikuti pendidikan di SMK bidang pariwisata sebanyak 174.726 orang, tertinggi berada di Jatim sebanyak 35.399 siswa, sedangkan Bali sebagai barometer pariwisata hanya memiliki 9.285 siswa (Depdiknas, 2007/2008).
Sedangkan lembaga pendidikan tinggi pariwisata atau yang menawarkan program studi pariwisata tercatat sebanyak 124 buah dari total 3.133 lembaga pendidikan tinggi, dan dapat diidentifikasi terdapat 213 program studi terkait pariwisata dari total 15.741 program studi. Sementera itu tercatat mahasiswa yang mengambil jurusan perhotelan dan pariwisata sebanyak 16.348 orang (Kusmayadi, 2009).
Dari sisi ketersediaan tenaga pengajar, menunjukkan bahwa kualitas tenaga pengajar untuk sekolah tinggi pariwisata masih jauh dari memadai, tercatat hanya sekitar 21,94 persen dosen yang berpendidikan lebih tinggi dari strata S1 (Kusmayadi, 2009).
b). Sisi Permintaan (Demand)
Gambaran dari sisi permintaan/pengguna antara lain dapat dilihat dari kontribusi pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja (dampak pariwisata terhadap tenaga kerja). Dampak yang diciptakan dari kegiatan pariwisata terbesar adalah terhadap tenaga kerja dan juga merupakan sektor yang dapat menciptakan lapangan kerja dan usaha, dengan demikian peranannya sangat diperlukan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat maupun nasional.
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi dalam menciptakan output barang dan jasa. Dalam model input-output, besarnya tenaga kerja yang terserap di setiap sektor secara linier mengikuti besarnya output yang dihasilkan. Dengan demikian, permintaan di sektor pariwisata juga akan memberi dampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Semakin besar permintaan di sektor pariwisata, baik konsumsi wisatawan maupun investasi di bidang pariwisata, akan semakin besar pula penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor terkait.
Pada tahun 2007, dampak terhadap tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi terkait pariwisata karena adanya kegiatan pariwisata mencapai 5.216 ribu orang atau 5,22 persen dari tenaga kerja nasional. Jumlah tenaga kerja terbesar di bidang kepariwisataan diciptakan oleh pengeluaran wisnu yang mencapai 2,72 persen dari jumlah tenaga kerja nasional, sementara pengeluaran wisman berperan 1,46 persen (BPS). Kedua permintaan ini cukup berpengaruh besar karena memang memberi dampak langsung terhadap peningkatan tenaga kerja. Permintaan yang lain kurang memberi dampak berarti bagi penyerapan tenaga kerja. Pengeluaran investasi pariwisata hanya berperan 0,81 persen, pengeluaran pre-post-trip dari wisatawan Indonesia ke luar negeri 0,14 persen dan promosi pariwisata 0,09 persen (BPS).
Mengacu kepada sektor akomodasi, untuk hotel berbintang secara nasional dari 33 propinsi, tercatat terdapat sejumlah 1,169 usaha akomodasi, dengan jumlah kamar 112,079, dan jumlah tempat tidur 174,321. Sektor ini mampu menyerap rata-rata pekerja per usaha sebesar 117.684, sedangkan rata-rata pekerja per kamar sebesar 117.684 (BPS). Sedangkan untuk hotel non-bintang, secara nasional dari 33 propinsi, tercatat sejumlah 12.585 usaha akomodasi, dengan jumlah kamar 213,139, dan jumlah tempat tidur 349,619. Sektor ini mampu menyerap rata-rata pekerja per usaha sebesar 8.747, sedangkan rata-rata pekerja per kamar sebesar 0.516 (BPS).
C. PENUTUP
SDM yang berkualitas akan mendorong terciptanya produktivitas yang tinggi yang akan menjadi modal dasar bagi keberhasilan pembangunan perekonomian secara nasional. Pembangunan sektor pariwisata menghadapi permasalahan mendasar antara lain masih terbatasnya SDM pengelola, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Daya saing SDM pariwisata Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan SDM pariwisata adalah sebagai berikut:
1. Belum teridentifikasinya ketersediaan SDM di bidang pariwisata baik secara kuantitas maupun kualitas.
2. Belum teridentifikasinya tingkat kebutuhan SDM baik secara kuantitas maupun kualitas dalam rangka pembangunan bidang pariwisata baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
3. Belum teridentifikasinya berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan peningkatan daya saing SDM guna pembangunan bidang pariwisata dalam menghadapi tantangan yang terjadi baik nasional, regional maupun internasional.
4. Kurangnya keterpaduan kebijakan pemerintah dalam hal ini departemen terkait dalam pengembangan SDM pariwisata.
Pembangunan SDM dapat meningkatkan kualitas SDM dalam mendukung upaya mewujudkan dan membentuk karakter bangsa yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. SDM pariwisata mencakup wisatawan /pelaku wisata (tourist) atau sebagai pekerja (employment). SDM Pariwisata adalah Seluruh aspek manusia yang mendukung kegiatan wisata baik bersifat tangible maupun intangible yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan terciptanya kepuasan wisatawan serta berdampak positif terhadap ekonomi, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan dan budaya di suatu kawasan wisata. Beberapa peran penting keberadaan SDM di industri pariwisata, yaitu sebagai motor penggerak kelangsungan industri; pelaku utama yang menciptakan produk inti pariwisata (pengalaman); dan salah satu faktor penentu daya saing industri.
Pendidikan dan pelatihan di bidang pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menciptakan SDM pariwisata yang handal dan profesional baik secara kuantitas maupun kualitas dalam mendorong pertumbuhan pariwisata secara signifikan. Untuk memperoleh SDM pariwisata yang berdaya saing global diperlukan upaya yang sistematis dengan menekankan pada kompetensi lulusan dan kematangan emosi. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata baik di tingkat SLTA atau yang disetarakan maupun di tingkat perguruan tinggi/akademi sangat penting dalam menghasilkan tenaga trampil terdidik yang berdaya saing global.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olah Raga Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2009. Strategi Pengembangan SDM Di Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olahraga: kppo.bappenas.go.id/.../...
RENCANA STRATEGIS Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2010-2014. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Badan Pengembangan Sumber Daya 2010: www.bpsdbudpar.org/files/renstra/ Renstra%20Final%20BPSD.pdf
Jurnal Manajemen, Jurnal Manajemen Sumber daya Manusia, Bahan Kuliah Manajemen. Pengantar Industri Pariwisata : Definisi Kepariwisataan dan Pariwisata, dan Pengembangan Pariwisata: jurnal-sdm.blogspot.com/.../pengantar-industri-pariwisata-definisi.ht...
SDM Indonesia dalam persaingan global: emperordeva.wordpress.com/.../sdm-indonesia-dalam-persaingan-glo...
Prabowo, Anung, Saatnya SDM Indonesia Bersaing di Kancah Internasional: www.portalhr.com/.../ saatnya-sdm-indonesia-bersaing-di-kancah-...
Nandi, Pariwisata dan Pengembangan Sumber Daya Manusia: file.upi.edu/.../ Artikel_di_Jurnal_GEA.pdf__Pariwisata_dan_Sumber...
LAMPIRAN-LAMPIRAN :
Jumlah SMK Bidang Pariwisata tahun 2007/2008 (Depdiknas, 2007/2008)
Jumlah siswa SMK Bidang Pariwisata tahun 2007/2008 (Depdiknas, 2007/2008)
Tabel Jumlah Perguruan Tinggi dan Program Studi Bidang Pariwisata di Indonesia (Kusmayadi, 2009)
Pendidikan
|
Pendidikan Par
|
Share
| ||||
PT
|
PS
|
PT
|
PS
|
PT
|
PS
| |
Universitas
|
472
|
9.086
|
27
|
40
|
5,72
|
0,44
|
Institut
|
65
|
769
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Sekolah Tinggi
|
1.378
|
3.622
|
16
|
49
|
1,16
|
1,35
|
Akademi
|
1.051
|
1.397
|
61
|
101
|
5,80
|
7,23
|
Politeknik
|
167
|
867
|
20
|
23
|
11,98
|
2,65
|
3.133
|
15.741
|
124
|
213
|
3,96
|
1,35
| |
Lampiran 4
Tabel Populasi Mahasiswa Perhotelan dan Pariwisata, sampai dengan November 2009 (Kusmayadi, 2009)
Perhotelan
|
%
|
Pariwisata
|
%
|
Total
|
%
| |
D1
|
375
|
3,51
|
20
|
0,36
|
399
|
2,44
|
D2
|
11
|
0,10
|
-
|
-
|
11
|
0,07
|
D3
|
7.597
|
71,13
|
3.875
|
69,59
|
11.543
|
70,61
|
D4
|
2.543
|
23,81
|
1.568
|
28,16
|
4.135
|
25,29
|
S1
|
154
|
1,44
|
-
|
-
|
155
|
0,95
|
S2
|
-
|
-
|
105
|
1,89
|
105
|
0,64
|
Total
|
10.680
|
100
|
5.568
|
100
|
16.348
|
100
|
Lampiran 5
Tabel Dosen Pariwisata Menurut Kualifikasi Pendidikan (Kusmayadi, 2009)
Kualifikasi Pendidikan
|
Jumlah
|
%
|
S3
|
7
|
0,62
|
S2
|
242
|
21,32
|
S1
|
735
|
64,76
|
D4
|
85
|
7,49
|
D3
|
57
|
5,02
|
Lainnya
|
9
|
0,79
|
Total
|
1.135
|
100,00
|
Catatan: Dosen Tetap STP Bandung: 150, STP Bali: 120 Dosen
Lampiran 6
Tabel Jumlah Akomodasi, Rata-rata Pekerja dan Jumlah Tamu per Hari Menurut Provinsi, tahun 2008 (BPS)
Jenis
Akomodasi
|
Banyaknya
|
Rata-rata
Pekerja Per
|
Tamu
Per Hari
|
|||||
Usaha
|
Kamar
|
Tempat Tidur
|
Usaha
|
Kamar
|
Indonesia
|
Asing
|
Jumlah
|
|
Hotel berbintang
|
1,169
|
112,079
|
174,321
|
117.684
|
1.227
|
54,239
|
21,640
|
75,879
|
Hotel non-bintang
|
12,582
|
213,139
|
349,619
|
8.747
|
0.516
|
85,235
|
6,223
|
91,458
|
Lampiran 7
Tabel Jumlah Akomodasi, Rata-rata Pekerja dan Jumlah Tamu per Hari Menurut Provinsi, Tahun 2008-Hotel Bintang (BPS)
Hotel Bintang
|
||||||||
Provinsi
|
Banyaknya
|
Rata-rata Pekerja
Per
|
Tamu Per Hari
|
|||||
Usaha
|
Kamar
|
Tempat Tidur
|
Usaha
|
Ka-mar
|
Indo-nesia
|
Asing
|
Jum-lah
|
|
1. Nanggroe Aceh
Darussalam
|
16
|
774
|
1,292
|
47.125
|
0.974
|
353
|
16
|
369
|
2.
Sumatera Utara
|
62
|
5,256
|
9,413
|
104.774
|
1.236
|
3,542
|
396
|
3,938
|
3.
Sumatera Barat
|
24
|
1,641
|
2,767
|
68.958
|
1.009
|
1,052
|
220
|
1,272
|
4.
R i a u
|
26
|
2,507
|
3,712
|
98.000
|
1.016
|
1,354
|
138
|
1,492
|
5.
J a m b i
|
12
|
743
|
1,103
|
67.583
|
1.092
|
241
|
4
|
245
|
6.
Sumatera Selatan
|
33
|
2,298
|
3,271
|
82.697
|
1.188
|
1,630
|
304
|
1,934
|
7.
Bengkulu
|
4
|
167
|
281
|
66.250
|
1.587
|
76
|
3
|
79
|
8.
Lampung
|
8
|
513
|
730
|
112.375
|
1.752
|
375
|
28
|
403
|
9.
Kep Bangka Belitung
|
11
|
361
|
558
|
50.455
|
1.537
|
146
|
-
|
146
|
10.
Kepulauan Riau
|
39
|
3,887
|
5,323
|
83.077
|
0.834
|
1,091
|
862
|
1,953
|
11.
DKI Jakarta
|
139
|
24,987
|
34,940
|
216.727
|
1.206
|
13,803
|
4,655
|
18,458
|
12.
Jawa Barat
|
161
|
13,303
|
22,273
|
97.901
|
1.185
|
7,805
|
703
|
8,508
|
13.
Jawa Tengah
|
108
|
6,725
|
11,676
|
64.954
|
1.043
|
3,656
|
359
|
4,015
|
14.
DI Yogyakarta
|
34
|
3,471
|
5,443
|
103.794
|
1.017
|
1,802
|
532
|
2,334
|
15.
Jawa Timur
|
79
|
7,672
|
11,811
|
112.152
|
1.155
|
4,663
|
362
|
5,025
|
16.
Banten
|
37
|
2,641
|
4,248
|
100.270
|
1.405
|
1,446
|
357
|
1,803
|
17.
B a l i
|
150
|
20,240
|
33,178
|
203.200
|
1.506
|
3,292
|
11,757
|
15,049
|
18. Nusa Tenggara
Barat
|
32
|
2,222
|
3,424
|
83.375
|
1.201
|
645
|
422
|
1,067
|
19. Nusa Tenggara
Timur
|
8
|
323
|
566
|
47.625
|
1.180
|
132
|
19
|
151
|
20.
Kalimantan Barat
|
11
|
1,069
|
1,581
|
122.182
|
1.257
|
890
|
52
|
942
|
21.
Kalimantan Tengah
|
2
|
118
|
194
|
50.000
|
0.847
|
22
|
2
|
24
|
22.
Kalimantan Selatan
|
23
|
1,470
|
2,189
|
94.043
|
1.471
|
878
|
38
|
916
|
23.
Kalimantan Timur
|
36
|
3,480
|
4,891
|
123.583
|
1.278
|
1,437
|
145
|
1,582
|
24.
Sulawesi Utara
|
17
|
1,190
|
1,843
|
70.412
|
1.006
|
607
|
48
|
655
|
25.
Sulawesi Tengah
|
1
|
55
|
93
|
94.000
|
1.709
|
55
|
1
|
56
|
26.
Sulawesi Selatan
|
50
|
2,979
|
4,545
|
70.740
|
1.187
|
2,741
|
184
|
2,925
|
27.
Sulawesi Tenggara
|
1
|
30
|
54
|
43.000
|
1.433
|
23
|
-
|
23
|
28.
Gorontalo
|
1
|
54
|
79
|
73.000
|
1.352
|
20
|
1
|
21
|
29.
Sulawesi Barat
|
3
|
76
|
120
|
17.667
|
0.697
|
33
|
-
|
33
|
30.
M a l u k u
|
15
|
529
|
799
|
25.733
|
0.730
|
103
|
5
|
108
|
31.
Maluku Utara
|
1
|
44
|
44
|
34.000
|
0.773
|
5
|
-
|
5
|
32.
Papua Barat
|
11
|
523
|
787
|
51.727
|
1.088
|
132
|
8
|
140
|
33.
P a p u a
|
14
|
731
|
1,093
|
74.929
|
1.435
|
189
|
19
|
208
|
Indonesia
|
1,169
|
112,079
|
174,321
|
117.684
|
1.227
|
54,239
|
21,640
|
75,879
|
Lampiran 8
Tabel Jumlah Akomodasi, Rata-rata Pekerja dan Jumlah Tamu per Hari Menurut Provinsi, Tahun 2008-Hotel Non Bintang (BPS)
Non
Bintang
|
||||||||
Provinsi
|
Banyaknya
|
Rata-rata
Pekerja Per
|
Tamu
Per Hari
|
|||||
Usaha
|
Kamar
|
Tempat
Tidur
|
Usaha
|
Ka-mar
|
Indo-nesia
|
Asing
|
Juml-ah
|
|
1.
Nanggroe Aceh Darussalam
|
152
|
2,579
|
5,153
|
6.651
|
0.392
|
770
|
17
|
787
|
2. Sumatera Utara
|
736
|
13,771
|
21,362
|
7.327
|
0.392
|
7,021
|
118
|
7,139
|
3. Sumatera Barat
|
215
|
3,061
|
5,916
|
6.651
|
0.467
|
1,209
|
70
|
1,279
|
4. R i a u
|
268
|
6,188
|
10,551
|
10.022
|
0.434
|
2,710
|
23
|
2,733
|
5. J a m b i
|
126
|
2,453
|
4,158
|
6.976
|
0.358
|
1,225
|
1
|
1,226
|
6. Sumatera Selatan
|
237
|
4,730
|
8,394
|
9.249
|
0.463
|
1,816
|
5
|
1,821
|
7. Bengkulu
|
101
|
1,456
|
2,430
|
7.297
|
0.506
|
491
|
0
|
491
|
8. Lampung
|
181
|
3,350
|
5,926
|
8.840
|
0.478
|
1,350
|
8
|
1,358
|
9. Kep Bangka Belitung
|
59
|
823
|
1,285
|
8.949
|
0.642
|
286
|
1
|
287
|
10. Kepulauan Riau
|
229
|
6,601
|
7,371
|
9.511
|
0.330
|
3,318
|
391
|
3,709
|
11. DKI Jakarta
|
193
|
6,686
|
18,580
|
23.772
|
0.686
|
5,155
|
82
|
5,237
|
12. Jawa Barat
|
1,295
|
27,793
|
46,916
|
12.417
|
0.579
|
10,469
|
152
|
10,621
|
13. Jawa Tengah
|
1,147
|
19,911
|
31,597
|
7.345
|
0.423
|
10,299
|
105
|
10,404
|
14. DI Yogyakarta
|
1,144
|
12,707
|
20,136
|
4.987
|
0.449
|
5,136
|
97
|
5,233
|
15. Jawa Timur
|
1,428
|
23,107
|
37,324
|
8.182
|
0.506
|
11,002
|
138
|
11,140
|
16. Banten
|
189
|
3,219
|
5,722
|
8.333
|
0.489
|
1,169
|
16
|
1,185
|
17. B a l i
|
1,565
|
22,123
|
33,183
|
12.799
|
0.905
|
6,596
|
4,520
|
11,116
|
18.
Nusa Tenggara Barat
|
315
|
3,887
|
6,599
|
7.651
|
0.620
|
683
|
171
|
854
|
19.
Nusa Tenggara Timur
|
204
|
3,192
|
6,052
|
6.848
|
0.438
|
409
|
48
|
457
|
20. Kalimantan Barat
|
293
|
5,964
|
8,842
|
6.805
|
0.334
|
2,124
|
16
|
2,140
|
21. Kalimantan Tengah
|
304
|
4,941
|
7,436
|
4.618
|
0.284
|
1,036
|
3
|
1,039
|
22. Kalimantan Selatan
|
201
|
3,871
|
5,950
|
7.657
|
0.398
|
1,442
|
4
|
1,446
|
23. Kalimantan Timur
|
433
|
8,170
|
12,282
|
7.531
|
0.399
|
2,232
|
43
|
2,275
|
24. Sulawesi Utara
|
165
|
3,063
|
4,590
|
9.933
|
0.535
|
1,022
|
63
|
1,085
|
25. Sulawesi Tengah
|
246
|
2,788
|
4,709
|
5.439
|
0.480
|
630
|
13
|
643
|
26. Sulawesi Selatan
|
435
|
6,748
|
11,362
|
7.717
|
0.497
|
3,000
|
66
|
3,066
|
27. Sulawesi Tenggara
|
214
|
2,335
|
3,595
|
5.673
|
0.520
|
683
|
16
|
699
|
28. Gorontalo
|
60
|
861
|
1,338
|
6.017
|
0.419
|
205
|
2
|
207
|
29. Sulawesi Barat
|
74
|
893
|
1,534
|
5.297
|
0.439
|
419
|
4
|
423
|
30. M a l u k u
|
105
|
1,359
|
1,991
|
6.057
|
0.468
|
231
|
4
|
235
|
31. Maluku Utara
|
106
|
1,485
|
2,911
|
6.519
|
0.465
|
302
|
1
|
303
|
32. Papua Barat
|
41
|
763
|
1,105
|
9.293
|
0.499
|
103
|
0
|
103
|
33. P a p u a
|
121
|
2,261
|
3,319
|
10.851
|
0.581
|
692
|
25
|
717
|
Indonesia
|
12,582
|
213,139
|
349,619
|
8.747
|
0.516
|
85,235
|
6,223
|
91,458
|
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar