Tugas Mata Kuliah :
Makro Ekonomi
Dosen Pengampuh :
Haniek Listyorini, SE. MBA.
Nama Mahasiswa : A Beach Eagle (Irwansyah)
NPM : 10.52.0504
Jurusan : Manajemen Perhotelan
Program : Strata Satu (S1)
BI Perkuat Kebijakan
Moneter
Selasa, 1 Maret 2011 21:50
WIB | 1718 Views
Gubernur
Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. (ANTARA)
Jakarta
(ANTARA News) - Bank Indonesia pada tahun 2011 akan terus
memperkuat bauran kebijakan moneter yang dikalibrasi berdasarkan penilaian yang
menyeluruh terhadap prospek perekonomian dan sistem keuangan.
Gubernur
Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Selasa, mengatakan kebijakan
tersebut mencakup kebijakan suku bunga BI rate, kebijakan nilai tukar, menjaga
kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan
likuiditas domestik, dan kebijakan makroprudensial terhadap aliran masuk modal
asing.
Dijelaskannya,
terkait kebijakan suku bunga, keputusan BI Rate senantiasa mempertimbangkan
lima faktor utama, yaitu proyeksi inflasi dua tahun ke depan dan konsistensinya
dengan sasaran inflasi, proyeksi pertumbuhan ekonomi dua tahun ke depan,
proyeksi nilai tukar dan faktor penyebabnya, termasuk aliran modal asing, serta
pengaruhnya pada proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi, perkembangan suku
bunga dan kredit perbankan, serta valuasi aset di sektor keuangan.
Dua
faktor pertama, lanjut Darmin, diperlukan untuk menjaga konsistensi BI rate
dengan pencapaian sasaran inflasi dengan mempertimbangkan dampaknya pada
pertumbuhan ekonomi.
Sementara
itu, tiga faktor terakhir diperlukan untuk keseimbangan eksternal, stabilitas
moneter dan stabilitas sistem keuangan, sekaligus untuk penilaian terhadap
mekanisme transmisi kebijakan moneter.
Ini
berimplikasi bahwa keputusan BI Rate akan dilakukan secara terukur dan diubah
dalam kondisi yang tepat dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap
kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.
Sebagai
bagian dari bauran kebijakan, respon suku bunga sangat penting untuk lebih
mempertegas sinyal atas kebijakan makroprudensial yang telah lebih dahulu
ditempuh seperti Giro Wajib Minimum (GWM).
Meredam
peningkatan tekanan inflasi di tengah meningkatnya imported inflation akibat melambungnya harga komoditas juga
memerlukan pemberian fleksibilitas bagi nilai tukar rupiah untuk menguat,
sehingga kenaikkan BI Rate yang terlalu besar dapat dihindari.
Namun,
fleksibilitas tersebut juga harus terkendali agar daya saing ekspor tetap
terjaga. "Bauran kebijakan sebagaimana saya uraikan tersebut, hemat saya
merupakan solusi yang memadai untuk merespon tantangan yang semakin komplek
saat ini dan ke depan," katanya.
Meski
demikian, dalam kondisi dimana aliran modal jangka pendek cukup besar,
sementara daya serap perekonomian dan pasar keuangan masih terbatas, maka
bauran kebijakan tersebut tetap tidaklah cukup.
Untuk
mencapai hasil optimal, kebijakan moneter harus dijalankan secara bersinergi
dengan kebijakan fiskal, serta ditopang kebijakan lain terutama untuk mengatasi
persoalan pasokan dan kebijakan pendalaman pasar keuangan.
"Kebijakan
fiskal yang prudent sangat penting
untuk menjaga kesinambungan, namun juga perlu disertai dengan pembelanjaan yang
efektif dan efisien sehingga akan lebih memperkuat pertumbuhan ekonomi
sekaligus membantu mengurangi ekses likuiditas di pasar keuangan,"
katanya.
Sementara
itu, jalinan koordinasi untuk mengatasi persoalan pasokan dan distribusi perlu
terus diperkuat, termasuk melalui optimalisasi peran TPI dan TPID.
Demikian pula, langkah konkret dalam rangka pendalaman pasar keuangan tidak kalah penting untuk membantu mengurangi risiko instabilitas yang ditimbulkan oleh arus modal yang volatile.
Demikian pula, langkah konkret dalam rangka pendalaman pasar keuangan tidak kalah penting untuk membantu mengurangi risiko instabilitas yang ditimbulkan oleh arus modal yang volatile.
(D012/A011
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT
© 2011
Sumber
berita dari :
BI Perkuat Kebijakan
Moneter - kode:173172 | IDsaham.com
idsaham.com/news-saham-BI-Perkuat-Kebijakan-Moneter-173172.ht...
Idsaham.com
| Berita saham : BI Perkuat Kebijakan Moneter | asal berita oleh
antaranews.com, kode berita saham 173172.
Komentar Bacaan : BI Perkuat Kebijakan Moneter
A.
Isi
Kebijakan
Bank
Indonesia pada kebijakan kali ini menerapkan kebijakan moneter yang
mensinergikan 3 instrument kebijakan moneter yaitu operasi pasar terbuka,
tingkat diskonto dan cadangan wajib. Hal ini bila dikaitkan dengan pernyataan Gubernur
Bank Indonesia Darmin Nasution sebagaimana diberitakan oleh (ANTARA News) yakni
“Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Selasa, mengatakan
kebijakan tersebut mencakup kebijakan suku bunga BI rate, kebijakan nilai
tukar, menjaga kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan makroprudensial untuk
pengelolaan likuiditas domestik, dan kebijakan makroprudensial terhadap aliran
masuk modal asing.”
Artinya
Bank Sentral akan memilih kebijakan moneter yang paling tepat sesuai dengan
kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini sampai dua tahun kedepan agar
menemukan titik "ekuiliberium" (E) yang tepat dari kurva agregat supply dan kurva
agregat demand yang terjadi di masyarakat pada semua sektor barang dan jasa
yang dihasilkan. Jadi kebijakan yang akan diambil adalah bauran dari sistem
kebijakan yang ada pada Bank Indonesia sebagai Bank Sentral.
Kebijakan itu dijabarkan sebagai berikut:
Kebijakan itu dijabarkan sebagai berikut:
1. Kebijakan
operasi pasar terbuka, dengan memperjual belikan surat berharga pemerintah di
pasar terbuka. Artinya Bank Sentral dapat menaik turunkan jumlah cadangan bank.
Instrumen ini merupakan stabilisator Bank Sentral. Langkah yang dapat dilakukan
oleh Bank Sentral adalah:
a. Menambah
cadangan perbankan dengan cara membeli surat berharga (treasury bills/obligasi) jangka pendek dan obligasi jangka panjang pemerintah.
b. Mengurangi
cadangan perbankan dengan cara menjual surat berharga milik pemerintah, bila
diputuskan untuk memperketat cadangan perbankan.
2. Kebijakan
tingkat diskonto, Bank Sentral memberikan pinjaman pada bank-bank komersial
yang kekurangan cadangan. Pinjaman ini disebut cadangan pinjaman. Bila jumlah
cadangan pinjaman bertambah maka bank-bank komersial akan meminjam dari Bank
Sentral dan akan meningkatkan cadangan Bank Sentral.
3. Cadangan
wajib (reserve), Bila Bank Sentral ingin memperketat situasi moneter dengan
cepat maka Bank Sentral akan menaikan peraturan rasio cadangan wajib perbankan.
Bila Bank Sentral ingin mengendorkan syarat kredit maka tindakan yang diambil
menurunkan rasio cadangan wajib perbankan.
Salah
satu kebijakan yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia sebagai bauran kebijakan
tersebut adalah Cadangan Wajib (reserve) seperti dikutip dalam pemberitaan di
atas adalah “Sebagai bagian dari bauran kebijakan, respon suku bunga sangat
penting untuk lebih mempertegas sinyal atas kebijakan makroprudensial yang
telah lebih dahulu ditempuh seperti Giro Wajib Minimum (GWM).”
B.
Mekanisme
Pasar
Mekanisme
pasar dapat saja terjadi tergantung dari situasi dan kondisi perekonomian
Indonesia saat ini dan pada masa yang akan datang hingga dua tahun kedepan.
Mekanisme pasar tentunya dapat mempengaruhi kebijakan Bank Sentral dalam
mengambil suatu keputusan. Dari informasi yang disampaikan oleh Gubernur Bank
Indonesia Darmin Nasution pada pemberitaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
mekanisme pasar dapat saja terjadi sebagai berikut:
1. Jika
kondisi perekonomian baik, maka Bank Sentral memutuskan membiarkan suku bunga
dan pertumbuhan jumlah uang beredar pada tingkat yang sekarang ini ada.
2. Jika
Bank Sentral menilai tingkat jumlah pertumbuhan uang terlalu banyak beredar di
masyarakat yang dapat menimbulkan inflasi, maka kebijakan moneter yang diambil
adalah kebijakan uang ketat melalui penjualan surat berharga pemerintah
(obligasi) sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat menjadi berkurang
karena akan terjadinya peningkatan cadangan bank pada Bank Sentral. Atau
meningkatkan tingkat diskonto, sehingga kewajiban pembayaran pinjaman
meningkat, dan bank akan mengalihkan dananya pada pembelian obligasi.
3. Jika
Bank sentral menilai akan timbul resesi, maka Bank Sentral akan menyuntikan
dana segar dalam perekonomian, sehingga jumlah uang beredar meningkat, kemudian
suku bunga turun, investasi meningkat, output perekonomian meningkat. Caranya
dapat melalui operasi pasar terbuka dengan membeli obligasi di pasar,
meningkatkan cadangan pinjaman kepada bank-bank atau menurunkan tingkat
diskonto (suku bunga pinjaman), menurunkan cadangan wajib resmi, sehingga bank
komersial memiliki keleluasaan untuk menyalurkan dananya pada kegiatan dunia
usaha, investasi naik, output perekonomian meningkat.
C.
Tujuan
Makro Ekonomi
Tujuan
kebijakan moneter yang dapat disimpulkan dari pemberitaan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Menjaga
konsistensi BI rate dengan pencapaian sasaran inflasi dengan mempertimbangkan
dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.
2. Menjaga
keseimbangan eksternal, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan,
sekaligus untuk penilaian terhadap mekanisme transmisi kebijakan moneter.
3. Meredam
peningkatan tekanan inflasi di tengah meningkatnya imported inflation akibat melambungnya harga komoditas.
4. Memberikan
fleksibilitas bagi nilai tukar rupiah untuk menguat sehingga dapat menghindari
kenaikkan BI Rate yang terlalu besar.
5. Mengendalikan
fleksibilitas agar daya saing ekspor tetap terjaga.
Dari
kelima tujuan moneter di atas diharapkan dapat memberikan dampak positif
terhadap tujuan makro ekonomi yang sesungguhnya yakni sebagai berikut:
a. Adanya
peningkatan investasi sehingga akan berdampak pada peningkatan output.
b. Memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk membuka investasi baru sehingga dapat memberikan
lapangan kerja baru bagi masyarakat yang baru ingin bekerja.
c. Menekan
terjadinya laju inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
d. Menjaga
keseimbangan internasional pada kegiatan ekspor dan impor, artinya harus ada
keseimbangan antara pertumbuhan impor dan ekspor Indonesia.
Tetapi
kebijakan moneter Bank Indonesia sebagai Bank Sentral juga harus diikuti dengan
kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah
Indonesia. Artinya harus terjalin suatu kerjasama yg baik secara bersinergi antara
pemerintah sebagai penentu kebijakan fiskal seperti government expenditure, government tax, government price/tariff dan kebijakan lainnya seperti eksport dan import dengan Bank Indonesia (Bank Sentral) sebagai penentu kebijakan moneter, sehingga semua tujuan Makro Ekonomi seperti terdeskripsi di atas dapat mencapai hasil yang optimal. Hal ini hasil
terjemahan dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dari
pemberitaan di atas yang mengatakan “Untuk mencapai hasil optimal, kebijakan
moneter harus dijalankan secara bersinergi dengan kebijakan fiskal, serta
ditopang kebijakan lain terutama untuk mengatasi persoalan pasokan dan
kebijakan pendalaman pasar keuangan.”
DAFTAR
PUSTAKA
BI Perkuat Kebijakan Moneter - kode:173172 |
IDsaham.com
idsaham.com/news-saham-BI-Perkuat-Kebijakan-Moneter-173172.ht...
Idsaham.com | Berita saham : BI Perkuat
Kebijakan Moneter | asal berita oleh
antaranews.com, kode berita saham
173172 : Google.com
Listyorini, Haniek, 2009. Makro Ekonomi, Bahan Kuliah, STIEPARI Semarang Indonesia.

Tidak ada komentar:
Poskan Komentar