WELCOME TO http://abeacheagle.blogspot.com

WELCOME TO http://abeacheagle.blogspot.com
My name is A Beach Eagle, you can call me Irwansyah (Indonesia man), This is my creation in a scientific written, if you have hobby to read, please look at this!!!

My Profile

Foto Saya
Sungailiat - Pangkalpinang, Bangka Belitung Island Province, Indonesia
My wise man words : The life is adventure, if you want to get happy in the world with knowledge and also get happy in the hereafter with knowledge, so be adventurer look for knowledge in order that your life happiness in the world and hereafter (eternity) can be gotten. The life is a struggle, so we must always strive to reach it in order that to be reality.

Translate into your languages

Kamis, 12 Januari 2012

ANALISIS ISI PEMBERITAAN TENTANG KEBIJAKAN PEMERINTAH

Tugas Mata Kuliah :
Makro Ekonomi

Dosen Pengampuh :
Haniek Listyorini, SE. MBA.

Disusun Oleh :
Nama Mahasiswa : A Beach Eagle (Irwansyah)
NPM : 10.52.0504
Jurusan : Manajemen Perhotelan
Program : Strata Satu (S1)

 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PARIWISATA
INDONESIA (STIEPARI) SEMARANG TAHUN 2011

Blog Support :  KLIK DI SINI
Sponsored by   KLIK DI SINI

BI Perkuat Kebijakan Moneter
Selasa, 1 Maret 2011 21:50 WIB | 1718 Views
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. (ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia pada tahun 2011 akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter yang dikalibrasi berdasarkan penilaian yang menyeluruh terhadap prospek perekonomian dan sistem keuangan. 
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Selasa,  mengatakan kebijakan tersebut mencakup kebijakan suku bunga BI rate, kebijakan nilai tukar, menjaga kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas domestik, dan kebijakan makroprudensial terhadap aliran masuk modal asing.
Dijelaskannya, terkait kebijakan suku bunga, keputusan BI Rate senantiasa mempertimbangkan lima faktor utama, yaitu proyeksi inflasi dua tahun ke depan dan konsistensinya dengan sasaran inflasi, proyeksi pertumbuhan ekonomi dua tahun ke depan, proyeksi nilai tukar dan faktor penyebabnya, termasuk aliran modal asing, serta pengaruhnya pada proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi, perkembangan suku bunga dan kredit perbankan, serta valuasi aset di sektor keuangan.
Dua faktor pertama, lanjut Darmin, diperlukan untuk menjaga konsistensi BI rate dengan pencapaian sasaran inflasi dengan mempertimbangkan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, tiga faktor terakhir diperlukan untuk keseimbangan eksternal, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan, sekaligus untuk penilaian terhadap mekanisme transmisi kebijakan moneter. 
Ini berimplikasi bahwa keputusan BI Rate akan dilakukan secara terukur dan diubah dalam kondisi yang tepat dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.
Sebagai bagian dari bauran kebijakan, respon suku bunga sangat penting untuk lebih mempertegas sinyal atas kebijakan makroprudensial yang telah lebih dahulu ditempuh seperti Giro Wajib Minimum (GWM). 
Meredam peningkatan tekanan inflasi di tengah meningkatnya imported inflation akibat melambungnya harga komoditas juga memerlukan pemberian fleksibilitas bagi nilai tukar rupiah untuk menguat, sehingga kenaikkan BI Rate yang terlalu besar dapat dihindari.
Namun, fleksibilitas tersebut juga harus terkendali agar daya saing ekspor tetap terjaga. "Bauran kebijakan sebagaimana saya uraikan tersebut, hemat saya merupakan solusi yang memadai untuk merespon tantangan yang semakin komplek saat ini dan ke depan," katanya.
Meski demikian, dalam kondisi dimana aliran modal jangka pendek cukup besar, sementara daya serap perekonomian dan pasar keuangan masih terbatas, maka bauran kebijakan tersebut tetap tidaklah cukup.
Untuk mencapai hasil optimal, kebijakan moneter harus dijalankan secara bersinergi dengan kebijakan fiskal, serta ditopang kebijakan lain terutama untuk mengatasi persoalan pasokan dan kebijakan pendalaman pasar keuangan.
"Kebijakan fiskal yang prudent sangat penting untuk menjaga kesinambungan, namun juga perlu disertai dengan pembelanjaan yang efektif dan efisien sehingga akan lebih memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu mengurangi ekses likuiditas di pasar keuangan," katanya.
Sementara itu, jalinan koordinasi untuk mengatasi persoalan pasokan dan distribusi perlu terus diperkuat, termasuk melalui optimalisasi peran TPI dan TPID.
       Demikian pula, langkah konkret dalam rangka pendalaman pasar keuangan tidak kalah penting untuk membantu mengurangi risiko instabilitas yang ditimbulkan oleh arus modal yang volatile.

(D012/A011
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Sumber berita dari :

BI Perkuat Kebijakan Moneter - kode:173172 | IDsaham.com
idsaham.com/news-saham-BI-Perkuat-Kebijakan-Moneter-173172.ht...
Idsaham.com | Berita saham : BI Perkuat Kebijakan Moneter | asal berita oleh antaranews.com, kode berita saham 173172.


Komentar Bacaan : BI Perkuat Kebijakan Moneter

A.    Isi Kebijakan
Bank Indonesia pada kebijakan kali ini menerapkan kebijakan moneter yang mensinergikan 3 instrument kebijakan moneter yaitu operasi pasar terbuka, tingkat diskonto dan cadangan wajib. Hal ini bila dikaitkan dengan pernyataan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution sebagaimana diberitakan oleh (ANTARA News) yakni “Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Selasa,  mengatakan kebijakan tersebut mencakup kebijakan suku bunga BI rate, kebijakan nilai tukar, menjaga kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas domestik, dan kebijakan makroprudensial terhadap aliran masuk modal asing.”
Artinya Bank Sentral akan memilih kebijakan moneter yang paling tepat sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini sampai dua tahun kedepan agar menemukan titik "ekuiliberium" (E) yang tepat dari kurva agregat supply dan kurva agregat demand yang terjadi di masyarakat pada semua sektor barang dan jasa yang dihasilkan. Jadi kebijakan yang akan diambil adalah bauran dari sistem kebijakan yang ada pada Bank Indonesia sebagai Bank Sentral.
Kebijakan itu dijabarkan sebagai berikut:
1.      Kebijakan operasi pasar terbuka, dengan memperjual belikan surat berharga pemerintah di pasar terbuka. Artinya Bank Sentral dapat menaik turunkan jumlah cadangan bank. Instrumen ini merupakan stabilisator Bank Sentral. Langkah yang dapat dilakukan oleh Bank Sentral adalah:
a.    Menambah cadangan perbankan dengan cara membeli surat berharga (treasury bills/obligasi) jangka pendek dan obligasi jangka panjang pemerintah.
b.   Mengurangi cadangan perbankan dengan cara menjual surat berharga milik pemerintah, bila diputuskan untuk memperketat cadangan perbankan.
2.     Kebijakan tingkat diskonto, Bank Sentral memberikan pinjaman pada bank-bank komersial yang kekurangan cadangan. Pinjaman ini disebut cadangan pinjaman. Bila jumlah cadangan pinjaman bertambah maka bank-bank komersial akan meminjam dari Bank Sentral dan akan meningkatkan cadangan Bank Sentral.
3.     Cadangan wajib (reserve), Bila Bank Sentral ingin memperketat situasi moneter dengan cepat maka Bank Sentral akan menaikan peraturan rasio cadangan wajib perbankan. Bila Bank Sentral ingin mengendorkan syarat kredit maka tindakan yang diambil menurunkan rasio cadangan wajib perbankan.
Salah satu kebijakan yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia sebagai bauran kebijakan tersebut adalah Cadangan Wajib (reserve) seperti dikutip dalam pemberitaan di atas adalah “Sebagai bagian dari bauran kebijakan, respon suku bunga sangat penting untuk lebih mempertegas sinyal atas kebijakan makroprudensial yang telah lebih dahulu ditempuh seperti Giro Wajib Minimum (GWM).” 

B.    Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar dapat saja terjadi tergantung dari situasi dan kondisi perekonomian Indonesia saat ini dan pada masa yang akan datang hingga dua tahun kedepan. Mekanisme pasar tentunya dapat mempengaruhi kebijakan Bank Sentral dalam mengambil suatu keputusan. Dari informasi yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution pada pemberitaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa mekanisme pasar dapat saja terjadi sebagai berikut:
1.    Jika kondisi perekonomian baik, maka Bank Sentral memutuskan membiarkan suku bunga dan pertumbuhan jumlah uang beredar pada tingkat yang sekarang ini ada.
2.  Jika Bank Sentral menilai tingkat jumlah pertumbuhan uang terlalu banyak beredar di masyarakat yang dapat menimbulkan inflasi, maka kebijakan moneter yang diambil adalah kebijakan uang ketat melalui penjualan surat berharga pemerintah (obligasi) sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat menjadi berkurang karena akan terjadinya peningkatan cadangan bank pada Bank Sentral. Atau meningkatkan tingkat diskonto, sehingga kewajiban pembayaran pinjaman meningkat, dan bank akan mengalihkan dananya pada pembelian obligasi.
3.   Jika Bank sentral menilai akan timbul resesi, maka Bank Sentral akan menyuntikan dana segar dalam perekonomian, sehingga jumlah uang beredar meningkat, kemudian suku bunga turun, investasi meningkat, output perekonomian meningkat. Caranya dapat melalui operasi pasar terbuka dengan membeli obligasi di pasar, meningkatkan cadangan pinjaman kepada bank-bank atau menurunkan tingkat diskonto (suku bunga pinjaman), menurunkan cadangan wajib resmi, sehingga bank komersial memiliki keleluasaan untuk menyalurkan dananya pada kegiatan dunia usaha, investasi naik, output perekonomian meningkat.

C.    Tujuan Makro Ekonomi
Tujuan kebijakan moneter yang dapat disimpulkan dari pemberitaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Menjaga konsistensi BI rate dengan pencapaian sasaran inflasi dengan mempertimbangkan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.
2.   Menjaga keseimbangan eksternal, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan, sekaligus untuk penilaian terhadap mekanisme transmisi kebijakan moneter. 
3.   Meredam peningkatan tekanan inflasi di tengah meningkatnya imported inflation akibat melambungnya harga komoditas.
4.   Memberikan fleksibilitas bagi nilai tukar rupiah untuk menguat sehingga dapat menghindari kenaikkan BI Rate yang terlalu besar.
5.   Mengendalikan fleksibilitas agar daya saing ekspor tetap terjaga.
Dari kelima tujuan moneter di atas diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap tujuan makro ekonomi yang sesungguhnya yakni sebagai berikut:
a.   Adanya peningkatan investasi sehingga akan berdampak pada peningkatan output.
b.   Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuka investasi baru sehingga dapat memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat yang baru ingin bekerja.
c.    Menekan terjadinya laju inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
d.   Menjaga keseimbangan internasional pada kegiatan ekspor dan impor, artinya harus ada keseimbangan antara pertumbuhan impor dan ekspor Indonesia.
Tetapi kebijakan moneter Bank Indonesia sebagai Bank Sentral juga harus diikuti dengan kebijakan fiskal dan kebijakan lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Artinya harus terjalin suatu kerjasama yg baik secara bersinergi antara pemerintah sebagai penentu kebijakan fiskal seperti government expenditure, government tax, government price/tariff dan kebijakan lainnya seperti eksport dan import dengan Bank Indonesia (Bank Sentral) sebagai penentu kebijakan moneter, sehingga semua tujuan Makro Ekonomi seperti terdeskripsi di atas dapat mencapai hasil yang optimal. Hal ini hasil terjemahan dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dari pemberitaan di atas yang mengatakan “Untuk mencapai hasil optimal, kebijakan moneter harus dijalankan secara bersinergi dengan kebijakan fiskal, serta ditopang kebijakan lain terutama untuk mengatasi persoalan pasokan dan kebijakan pendalaman pasar keuangan.”


DAFTAR PUSTAKA

BI Perkuat Kebijakan Moneter - kode:173172 | IDsaham.com
     idsaham.com/news-saham-BI-Perkuat-Kebijakan-Moneter-173172.ht...
     Idsaham.com | Berita saham : BI Perkuat Kebijakan Moneter | asal berita oleh
     antaranews.com, kode berita saham 173172 : Google.com

Listyorini, Haniek, 2009. Makro Ekonomi, Bahan Kuliah, STIEPARI Semarang Indonesia.

Tidak ada komentar: